Sorotan Pakar Politik Islam mengenai Politik di Indonesia Pasca Pemilu

Sorotan Pakar Politik Islam mengenai Politik di Indonesia Pasca Pemilu

@Ilustrasi


SUARANASIONAL.ID - Indonesia belum lama melaksanakan hajatan politik pemilihan umum (Pemilu) 2019 pada 17 April 2019. Secara umum pemilu berjalan lancar dan damai. Guru besar sosiologi universitas Marmara Istanbul Turki Prof. Dr. Ergun Yildirim mengapresiasi pemerintah Indonesia yang sukses melaksanakan pemilu lima tahunan itu. 

"Saya mengucapkan terima kasih atas keberhasilan pelaksaan pemilu 2019 di Indonesia. Semoga kedua belah pihak bisa berbesar jiwa menerima hasil pemilu," kata Ergun saat diwawancara melalui telepon seluler, Ahad (05/05).

Ergun menyoroti politik di Indonesia pasca pemilu. Salah satu calon wakil presiden KH Ma'ruf Amin yang berpasangan dengan capres Joko Widodo adalah petinggi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). 

Ergun yang merupakan pemerhati Islam politik berpendapat NU tetap independen sebetulnya akan baik. Sebab dalam politik ada banyak ketidakpastikan. Jika suatu saat ada peristiwa politik yang buruk maka akan membahayakan NU

"Ketika NU citranya buruk, maka masyarakat bisa menjauhi NU," ujar dia. 

Lantas, ia mencontohkan Turki dimana saat ini AKP selaku partai berkuasa banyak disoroti terkait isu korupsi dan isu hukum. Akibatnya masyarakat terbelah dan saling menyalahkan. 

"Oleh sebab itu saya katakan agama dan politik itu harus dipisahkan," tegas Ergun.

Mantan dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Marmara itu menilai masyarakat Indonesia telah memilih sistem demokrasi. Demokrasi itu berjalan seiring dengan hukum. Jika ada masalah yang muncul maka harus diselesaikan dengan mekanisme hukum. 

Ergun bilang bahwa apa yang Indonesia alami dialami juga oleh Turki. Ada simpang siur informasi yang berseliweran. Maka hati-hati dengan media terutama sosial media. Pasalnya, media bisa menggiring opini publik.

Jika ada perselisihan suara pemilu, ia menyarankan sebaiknya persoalan harus diselesaikan melalui jalur hukum. Lihat sekarang di Turki setelah pilkada persoalan digoreng oleh sosial media. Dulu sebelum ada sosial media situasinya lebih baik.

Menurutnya media memiliki kebijakan sendiri dalam menyampaikan beritanya tergantung pemiliknya. sementara sosial media ini memiliki dua sisi. Ada sisi positif ada sisi negatif.

"Di dunia saat ini banyak konflik terjadi gara-gara sosial media. Negara memberikan kebebasan. Tapi ketika kebebasan itu diberi sosial media menjadi tempat kebohongan," terangnya.

Ergun berharap setelah pemilu, maka yang perlu menjadi perhatian adalah isu ekonomi, masyarakat harus diperhatikan dan diurus dengan baik sebagai bagian dari pelayanan publik, pendidikan harus lebih berkualitas sehingga melahirkan SDM berkualitas dan kompetitif, universitas berkualitas.

"Sektor ini sangat penting. Kebijakan-kebijakannya harus ditingkatkan menyangkut isu keluarga, kesetaraan gender. Sebab dunia saat ini tengah mengalami situasi yang buruk, termasuk di Turki juga terkait isu tersebut," pungkasnya. *

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi