Sandiaga Uno Dorong Kebijakan Ok Oce Ke Level Nasional

Sandiaga Uno Dorong Kebijakan Ok Oce Ke Level Nasional

Sandiaga S Uno (Bakal Calon Wakil Presiden RI Pasangan Prabowo Subianto). @Istemewa


SUARANASIONAL.ID - Tampil sebagai sosok visioner Sandiaga Uno (Sandi) kini terus mempopulerkan gagasannya tentang OK OCE (One Kecamatan, One Center of Entrepreneurship). Gagasan ini awal mula muncul sebagai respons terhadap nasib para pelaku ekonomi kecil (mikro) yang kian hari terus terjepit di bawah persaingan ekonomi yang tidak sehat.

Ide yang semula digagas Sandi saat bersama Aies Baswedan dalam pilkada DKI Jakarta 2017 lalu ini kini semakin populer. Sejak terpilih sebagai wakil gubernur, Sandi bersama Anies berupaya merealisasikan program tersebut dengan alokasi anggaran mencapai 82 miliar pada 2017. Program OK OCE banyak diminati oleh warga DKI Jakarta. Terhitung hingga Mei 2018, sekitar 32 ribu yang sudah terdaftar sebagai peserta.

Sandi sendiri menyebut program OK OCE merupakan komitmen dirinya dalam memajukan iklim usaha khususnya di level masyarakat kelas menengah dan bawah. “Jadi kami siapkan platform OK OCE ini goes nasional, tapi tidak akan mengganggu yang ada di DKI”, tandasnya (Tempo.co, 11/9/2018).

Program populer ini memang mula-mula diperuntukkan bagi warga Jakarta yang hingga kini sebagian besarnya berada di bawah kondisi ekonomi yang memilukan. Banyak gedung pencakar langit yang bertebaran di mana-mana. Sayangnya, di tengah geliat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di ibukota, ternyata tidak berdampak signifikan terhadap kesejhateraan warganya. Justru, yang terjadi adalah sebuah paradoks. Sementara para warga pendatang hidup dengan gelimpangan harta dan kekayaannya, warga asli Jakarta sendiri justru berada bawah cekikan kondisi yang  seakan tak ada habisnya.

BPS mengeluarkan data terkait angka kemiskinan di Ibukota Jakarta pada Maret lalu yang menembus 3,57 persen dimana rasio gininya mencapai 0,394. Dengan gini ratio tersebut membuktikan bahwa tingkatan ketimpangan ekonomi di Jakarta termasuk parah. Persis seperti yang terlihat sekarang. Tampilan paradoks kota Jakarta menunjukkan bahwa betapa mirisnya kehidupan warganya–yang tidak hanya miskin tetapi juga terasing di tengah gemerlapnya kota.

Menyadari kondisi di atas, Sandi akhirnya tergerak hati untuk terjun dalam dunia politik. Alasan Sandi melepaskan sejumlah jabatan strategisnya di dunia usaha, bahkan telah mengatakan menarik diri dari dunia usaha agar konsen pada dunia politik, adalah panggilan moral untuk terlibat penuh dalam mengatasi angka kemiskinan di bumi pertiwi ini.

Keputusan Sandi terjun dalam dunia politik diakuinya sendiri bukanlah hal mudah. Beberapa kali ia bertukar pikiran baik dengan sang istri mapun orangtuanya. Ia pun berulang kali gagal meyakinkan mereka. Sempat putus asa untuk meneruskan niat awalnya. Sandi kemudian masuk ke dalam relung-relung sosial (warga kampung yang lusuh/kantong-kantong kemiskinan di Jakarta) yang sebelumnya jarang bahkan tak pernah ia lakukan. Dari sanalah muncul kesadaran dan semakin tebal keyakinannya.

Niat tulusnya itu akhirnya berbuah hasil. Sang istri dan ibunda tercinta yang semula sulit merelakan dirinya terjun dalam dunia politik, kali ini mulai menerima. Sandi kemudian membangun relasi politik dengan beberapa petinggi partai dan elite senior untuk meminta pandangan mereka. Alhasil, langkah tersebut membawanya menjadi wakil gubernur DKI Jakarta hasil pilkada 2017.

Bersama Anies (Gubernur DKI Jakarta) mereka membuat banyak terobosan pembangunan dalam memajukan ibu kota Jakarta. Meskipun banyak yang protes, kinerja mereka kini banyak yang memuji. Plus dan minus memang sudah lazim dalam sebuah roda pemerintahan, lepas dari siapa pemimpinnya. Tinggal bagaimana mengapresiasi yang lebih dan mengevaluasi yang masih kurang.

Tepat 27 Agustus 2018 di gedung DPRD DKI Jakarta, Sandi resmi mengundurkan sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Ia mundur dari jabatan tersebut karena ikut kontestasi dalam pilpres 2019 sebagai calon wakil presiden yang saat ini tengah berpasangan dengan Prabowo Subianto.

Motivasi Sandi maju sebagai calon wakil presiden tidak terlepas dari keinginan awalnya untuk terlibat menyelesaikan persoalan kemiskinan dan ketimpangan yang kian akut. Namun, kali ini fokus beliau tidak hanya di Jakarta, tetapi di seluruh wilayah nusantara.

Sandi pun kembali mengenalkan konsep OK OCE-nya. Menurutnya program tersebut harus goes nasional. Untuk itu ia terus mempopulerkan gagasan ini ke masyakarat saat melakukan kunjungan ke warga. Sandi bercita-cita dengan adanya program OK OCE ini para pelaku ekonomi menengah ke bawah bisa terberdayakan dengan baik melalui pelatihan, pembinaan, dan pemberian modal. Jika jumlah para pelaku UKMK yang saat ini hampir mencapai 59,2 juta benar-benar diperhatikan maka bukan tidak mungkin ke depan Indonesia akan menjadi negara dengan jumlah pendapatan per kapita tertinggi dunia. 


Penulis: Samsuddin (Peneliti Nasional Institut)

Pepesan Kosong Kabinet Jokowi-Makruf

SUARANASIONAL.ID - Menyimak penjelasan Presiden Jokowi kepada para pimpinan media soal komposisi kabinet, hampir...

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi