Rumah Penerjemah: Language, Values and Market under Globalization

Rumah Penerjemah: Language, Values and Market under Globalization

Fitri Anis Kurly, Founder Rumah Penerjemah dan Candidate Master of TESOL University of Bristol, United Kingdom.


SUARANASIONAL.ID - Mengutip perkataan Blommaert (2010) yang berbunyi “English as a language is a set of mobile, trans-locally operative resources rather than as localized and sedentary sociolinguistic pattern”. Artinya, bahasa Inggris tidak lagi dilihat sebagai alat berkomunikasi semata, atau alat untuk mempelajari budaya dan diskursus lain dari banyak negara, bahasa inggris mulai beralih fungsi; sebagai komoditas baru yang menggiurkan di pasar global. Untuk itu, kita mesti memperbaharui cara pandang terhadap bahasa inggris serta bagaimana memanfaatkan dan memaksimalkannya.

Tidak mengherankan ketika bahasa inggris semakin banyak peminatnya dari tahun ke tahun. Salah satu spirit mereka bagi yang mempelajarinya adalah recognation (pengakuan) dengan berusaha mendapatkan sertifikat sebagai bukti penguasaan bahasa inggris dan digunakan untuk berbagai orientasi. Tidak sedikit pendidikan non-formal dari yang bentuknya komunitas tanpa kantor sampai instansi besar dengan label nasional hingga internasional mulai bermunculan. Fenomena ini selaras dengan prediksi Monica Heller dalam tulisannya; “Language as Resource in the Globalized New Economy”.

Misalnya, banyak kalangan mulai dari siswa, mahasiswa, karyawan hingga dosen berangkat ke Kampung Inggris di Pare, Jawa Timur, ataukah mendaftar di English First (EF), British Council (BC), International Development Program (IDP) atau lembaga lainnya sebagai upaya mempelajari bahasa Inggris. Tentunya mereka harus meluangkan waktu dan mengeluarkan isi dompet yang tidak sedikit. Alasannya beragam, dari yang murni ingin mempelajari bahasa inggris untuk peningkatan kemampuan berkomunikasi, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi hingga menyangkut promosi naik jabatan.

Oleh karena itu, saya mengambil judul tulisan ini dari salah satu bab buku karya Coupland (2010) yang berjudul: “Languge and Globalization”. Ini dimaksudkan untuk memberi nilai lebih (plus value) pada bahasa Inggris, yang kemudian menjadi alasan utama terbentuknya Rumah Penerjemah. Rumah Penerjemah adalah wadah untuk saling membantu meningkatkan skill berbahasa Inggris, menjadikannya komoditas baru sekaligus membagikan value dan kebermanfaatan bagi sesama dengan penerjemahan sebagai lokus aktivitasnya.

RP saat ini dikembangkan oleh enam anak muda lainnya dengan ketertarikan yang sama; M. Jusrianto sebagai Co-Founder dan M. Jawahir sebagai Co. Translator, keduanya merupakan Awardee Yayasan Insan Cita Bangsa Scholarship, Panji Tanashur yang saat ini tengah menempuh studi Master di Australia National University (ANU) bertugas sebagai Marketing and Project Planner bersama Dhihram Tenrisau (Redaktur Eksekutif Locita.co) dan dibantu oleh Darmawan Prasetya yang tengah mempersiapkan keberangkatan studi Master tahun ini di Lund University, Sweden, dan Reva Wiratama (Pasca Sarjana Institute Teknologi Bandung) membawahi bidang Financial Planner sekaligus Content Designer.

Mengacu pada tiga prinsip keberadaan RP, yaitu Education, Enterpreneurship and Charity, RP merancang program-programnya. Nilai Education diciptakan saat para penerjemahnya saling bekerja sama, saling mengkoreksi dan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris-nya dalam setiap projek penerjemahan dengan bidang beragam; pendidikan, tehnik, kesehatan, ekonomi, hukum dan lainnya. Sebagai penjual jasa dan layanan, RP mawadahi tidak hanya untuk tim manajemen tetapi juga rekan-rekan penerjemah untuk mempelajari ilmu enterpreneurship seperti memperkenalkan RP baik melalui media sosial maupun metode lain, dan juga berupaya memberikan layanan yang baik bagi customer-nya.

Selanjutnya, sejak didirikannya, RP menjelaskan dalam perjanjian kerjasamanya dengan para penerjemah bahwa fee yang akan mereka dapatkan akan dipotong 15% untuk digunakan dalam kegiatan charity yang akan disalurkan ke anak-anak untuk melanjutkan sekolah. Salah satu contohnya adalah dukungan RP untuk adik-adik di Sekolah Perjumpaan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Selain itu, belakangan ini RP juga turut mengulurkan bantuan untuk korban-korban bencana alam seperti Palu, Lombok dan Lampung Selatan & Banten. Setelah berjalan sekitar hampir lima bulan, RP sudah memiliki kurang lebih 30 penerjemah dengan latar belakang berbeda. Beberapa diantara mereka tengah melanjutkan studi di luar negeri.

Kegiatan terbaru RP saat ini adalah open recruitment yang bertujuan menambah tenaga penerjemah dengan disiplin ilmu beragam dan memiliki kualitas bahasa Inggris yang semakin berkualitas. Agenda RP yang terdekat adalah mengadakan Scholarship Talk untuk memberikan informasi terkait beasiswa dan persiapan kuliah di Luar Negeri oleh para tim dan penerjemahnya. Program ini dibuka untuk masyarakat luas. Kedepannya, RP ingin mengajak semua kalangan yang memiliki keinginan mempelajari maupun yang sudah memiliki kemampuan bahasa Inggris untuk bekerja sama dan berbagi kebermanfaatan lebih banyak dan lebih luas lagi.

*Penulis:  Fitria Anis Kurly (Founder Rumah Penerjemah dan Candidate Master of TESOL University of Bristol, United Kingdom)

Cek Fakta: Jokowi Sudah Kalah?

SUARANASIONAL.ID - Setelah sejumlah lembaga survei mengumumkan hasil quick count, publik banyak yang bertanya “Prabowo...

Demokrasi Kita Dalam Bahaya

SUARANASIONAL.ID - “Apakah Prabowo bisa menang?,” Pertanyaan itu muncul di jutaan benak publik Indonesia menggantikan...

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi