Mursi Tutup Usia dalam Jeruji Besi, Fahri: Begini Perlakuan As-sisi?

Mursi Tutup Usia dalam Jeruji Besi, Fahri: Begini Perlakuan As-sisi?


SUARANASIONAL.ID – Muhammad Mursi telah tutup usia dalam jeruji besi dibawah kepemimpinan presiden Mesir Jenderal Abdul Fattah As-sisi. Penting diketahui bahwa Muhammad Mursi adalah pemimpin Mesir yang terpilih pertama kali secara demokratis pada 2012 sehingga dirinya dikenal sebagai bapak demokrasi mesir, namun kemudian dikudeta dan dipenjarakan sejak 2013.

Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR RI, menegaskan bahwa Muhammad Mursi dan organisasinya (Ikhwanul Muslimin/IM) telah komitmen dengan kebebasan dan demokrasi, namun faktanya dengan kematian Mursi hanya dipandang biasa-biasa saja oleh media media Barat karena gerakan IM sekarang punya nama jellek dinisbatkan dengan terorisme yang sengaja direkayasa oleh Barat melalui As-Sisi.

“Kalau mereka tidak komit dengan demokrasi, ngapain mereka ikut pemilu dan tidak melakukan gerakan bersenjata. Nah, kemunafikan seperti ini yang ada di dunia sekarang ini adalah karena cap-cap ideologi yang terlalu kental yang dikenakan kepada orang sehingga objektivitasnya itu menjadi hilang seperti logika didalam perang,” tutur Fahri, Selasa (18/06).

Dalam perang itu, lanjut Fahri, sebelum musuh dihancurkan maka segala cap buruk itu diberikan dulu pada musuh sehingga ketika cap buruk itu telah diberikan maka dia layak untuk dihabisi dengan cara yang paling keji sekalipun dan itulah yang terjadi kepada mantan seorang presiden (Muhammad Mursi) yang dipilih secara demokratis.

“Sejak dia ditangkap pada 2013, dia tidak boleh bertemu dengan keluarganya, dia tidak boleh bertemu dengan orang-orang terdekatnya, dia tidak diperbolehkan punya akses pada pengobatan, dia tidak boleh punya akses kepada makanan yang layak dan sebagainya, sehingga dalam waktu persidangan mereka diletakkan dalam sebuah cangkang besi, sangkar besi seperti burung, mereka tidak punya akses untuk bertemu dengan keluarganya, apalagi dengan laywernya, apalagi dengan wartawan,” tegas Fahri.

Tapi Mesir dibawah Jenderal As-sisi, ujar Fahri, berhasil meyakinkan negara-negara Barat bahwa mereka adalah pejuang yang memberantas terorisme sehingga tirani, pemenjaraan dan kediktatoran saat ini seperti direstui oleh negara-negara Barat.

“Jadi ada standar ganda yang sangat luar biasa, itulah yang dikritik oleh Erdogan, kalau Erdogan menjaga keamanan dalam negerinya dengan cara yang dia lakukan karena berbatasan dengan daerah perang di Syiria dan juga menghadapi masyarakat yang bebas, masyarakat yang penuh kebebasan dihajar habis-habisan hanya karena melakukan kontrol dengan politiknya,” lukasnya.

“Tetapi apa yang dilakukan oleh Asisi yang membunuh setiap hari dan memenjarakan ribuan, juga membunuh ribuan orang, mereka tidak peduli. Keadilan tidak ada lagi dalam perspektif politik global seperti ini dan mereka tidak sadar bahwa inilah yang memicu konflik dimana-dimana,” imbuhnya.

Fahri melanjutkan dengan nada tegas bahwa inilah yang kemudian memunculkan perasaan diperlakukan tidak adil, perasaan diperlakukan tidak aman, perasaan diancam, perasaan ditindas, perasaan dirampas kehidupannya, ekonominya dan sebagainya. “Ini yang menjadi sebab adanya perlawanan,” pungkasnya.

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi