Memaknai Perdamaian dan Persatuan dalam Bingkai Keadilan

Memaknai Perdamaian dan Persatuan dalam Bingkai Keadilan


SUARANASIONAL.ID - Gelombang demonstrasi di Papua dan Papua Barat, beberapa waktu lalu (19/8), merespon insiden diskriminasi rasial dan intimidasi di Surabaya dan Malang, Jawa Timur, merupakan implikasi logis dari terawatnya warisan konstruksi sosial kolonial di bumi pertiwi. Publik nasional baru tercengan melihat kejadian itu tatkala tumbuh kesadaran kolektif sesama anak negeri bersolidaritas melakukan protes mengecam aksi rasialis yang telah mencuaikan identitas mereka.

Merespon insiden tersebut. Polri dan Menkopolhukam memberikan keterangan ‘absurd’ yang terasa menyalahkan pihak ketiga selaku provokator yang menyulut emosi publik. Begitu pula Presiden Jokowi merspon persoalan itu sebagai masalah psikologis yang terrefleksi dalam pernyataan beliau: memaafkan lebih baik. Memaafkan tentu harus di lakukan. Sebaliknya, apalah artinya memaafkan jika keadilan bagi korban tidak di tegakkan?

Menyelesaikan kasus Papua agak kurang tepat memakai strategi-taktik hegemonik. Memakai instrumen aparatus represif dan institusi keagamaan. Alih-alih menyelesaikan, justru memperlihatkan kalau negara kurang serius dan terkesan melepas tanggung jawab atas problem kronis ihwal Hak Asasi Manusia. Perkara kesulitan Papua jangan di selesaikan secara parsial, tapi lakukan secara simultan.

Kalau pemerintah tetap berpendirian mendorong agar korban aksi rasial untuk memaafkan pelaku, tapi enggan menindak tegas pelaku. Jelas pemerintah melakukan pembiaran para pelaku aksi rasial, karenanya berpotensi kejadian serupa terulang. Sama sekali kurang tepat bila permasalahan hendak di reduksi sebatas problem psikologis semata dan menyalahkan pihak ketiga dengan stigma provokator.

Mestinya pemerintah konsisten atas narasi besar tentang perdamaian dan persatuan demi keutuhan bangsa, sebagaimana kerapkali di suarakan elite birokrat di pelbagai kesempatan. Tanpa menyentuh aspek keadilan sebagai faktor determinan sudah barang tentu narasi bijak tersebut sangat absurd dan tidak relevan.

Apalagi insiden diskriminasi rasial dan intimidasi kerapkali terjadi tiap momen-momen tertentu yang terkait erat dengan faktor historis integrasi politik Papua ke dalam Indonesia. Berdasarkan catatan investigatif tirto.id. Saat peringatan New York Agreement, pada (15/8/19), sekurang-kurangnya ada 226 orang di tangkap dan 39 orang mengalami tindak kekerasan yang terjadi dibeberapa wilayah. Ini belum termasuk insiden di tahun-tahun sebelumnya. Maka secara esensial insiden protes massa di Papua dan Papua Barat adalah kluminasi dari pelbagai soal yang terakumulasi.

Persatuan dan perdamaian sangat di butuhkan untuk menjaga keutuhan bangsa. Dua hal termaktub membutuhkan prasyarat keadilan sebagai faktor determinan. Apakah menyerukan perdamaian dan persatuan lewat cara memaafkan aksi rasial, tapi mengabaikan keadilan, terhadap identitas ke-Papua-an. Pemerintah ingin memaklumatkan keadilan bakal tegak bila saling maaf-memaafkan? Perdamaian dan persatuan tak bakal mungkin terjalin tanpa keadilan!

Sebagaimana Gus Dur pernah berkata, perdamaian tanpa keadilan itu ilusi. Melalui cara berbeda, namun maknanya sama, Yudi Latif menjelaskan bahwa persatuan dan keadilan harus bersinergi, tanpa harus saling mengorbankan satu sama lain. Persatuan dan perdamaian penting. Tapi jangan sampai melenyapkan keadilan!.

Keberagaman di bumi archipelago. Meletakkan Keadilan sebagai faktor determinan bagi persatuan dan perdamaian. Keadilan adalah perekat seluru perbedaan. Menciptakan persatuan dengan cara menegasi keadilan, seperti menelurkan penyakit di kemudian hari. Sebagai mana orde baru mewujudkan tertib sosial, seraya membabat Hak Asasi Manusia. Begitu juga perdamaian, tak mungkin, dan takkan mungkin tercipta kalau masih terdapat ketidakadilan.


Penulis : Anggota Forum Intelektual Nuhu Evav Malang/Rudi Hartono

Siasat Meruntuhkan KPK

SUARANASIONAL.ID-Komisi Pemberantasan Korupsi merupakan lembaga progresif dalam bidang hukum pasca-reformasi. Di...

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi