Idul Fitri: Mencairkan Kebekuan Pribadi

Idul Fitri: Mencairkan Kebekuan Pribadi


SUARANASIONAL.ID - Hanya di Indonesia ada tradisi Halal bihalal dan Hanya di INDONESIA tradisi Idulfitri disambung dengan saling memaafkan. Satu tradisi yang dilahirkan para ulama Kita dan menyumbang manfaat yang besar bagi menjaga tradisi kebersamaan.

Hari ini, setelah berpuasa dan setelah sengketa pemilu masih diperbincangkan, tradisi Idulfitri dan Halal Bihalal menawarkan jalan, menawarkan jabat tangan. Jangan salah memberikan makna. Ini hanya tabiat kedewasaan. Kita tidak jadikan perbedaan sebagai persoalan personal.

Maka,

Ketika kita bersalaman hari ini. Kita tidak sedang bersekongkol membenarkan yang salah. Kita hanya bertemu untuk menegaskan bahwa sebagai pribadi kita tetaplah insan yang sama. Manusia ada salah, jika secara pribadi menjadi persoalan, hari ini kita selesaikan.

Idulfitri dan Halal Bihalal mengingatkan kita bahwa ikatan kemanusiaan itu tinggi. Kita boleh marah oleh suatu mazhab dan pikiran yang mengorbankan banyak idealisme kita. Tetapi, itu semua ada ruang sengketanya. Adapun kita. Sesama manusia tetap harus melunak dan dewasa.

Tentu banyak yang tak akan selesai oleh Idulfitri dan Halal Bihalal. Bahkan ada yang bersikap ekstrem dengan menolak momen ini. “Kita belum selesai”, katanya.

Ok saja, mungkin konflik ini telah mulai masuk ke wilayah pribadi. Justru itu masalahnya. Jadi masalah pribadi.

Sekarang, mari kita pisahkan. Apa yang pribadi kita anggap selesai. Mari dewasa dengan kenyataan diri. Kita saling memaafkan semua yang salah. Tapi, apakah dewasa kalau kita anggap persoalan publik bisa kita anggap selesai di belakang layar? Inilah ujian bangsa besar.

Maka tradisi Idulfitri dan Halal Bihalal jangan sampai merusak tradisi pertanggungjawaban publik yang profesional. Sebab itulah problem bangsa ini berabad-abad, kita gampang sekali menghindar dan menutup busuk di bawah dan dibelakang.

Sementara kultur demokrasi dan keterbukaan menghendaki adanya sikap rasional dan dewasa sekaligus. Di satu sisi, kita harus pandai memisahkan kepentingan pribadi dan publik. Di sisi lain, kita harus lapang dada dengan keberagaman. Dan semua dalam satu kesadaran yang utuh.

Itulah kesulitan bangsa kita, dan pernah terjebak berkai-kali. Pada zaman kolonial pun, ada saja yang gandrung agar penjajah jangan disalahkan. Apalagi orde lama dan orde baru. Kita pernah terjebak menolak kritik dan perbedaan. Kita mudah bersekongkol mempertahankan kezaliman.

Faktanya demikian, tapi kita harus mau menyadarinya sebagai kelemahan. Tradisi Idulfitri dan Halal Bihalal yang dimaksudkan untuk mencairkan kebekuan pribadi ini jangan jadi pelarian. Tetaplah pada keharusan mencari kebenaran dan  kejujuran. Apalagi untuk kepentingan bersama.

Jadilah pribadi yang baik, jaga persahabatan, jangan menolak untuk memaafkan. Tapi, jangan mau mengorbankan idealisme dan kebenaran hanya karena perasaan tidak enak bahwa secara pribadi kita telah bertemu dan menyelesaikannya di kamar belakang. Bukan itu maksud hari raya ini.

Hari raya ini adalah pertanda taqwa, hasil dari Ramadhan adalah “la’allakum tattaqun” artinya “agar kamu bertakwa”. Takwa itu secara sederhana artinya matang dan dewasa. Dan kedewasaan ditandai oleh kemampuan memisahkan masalah pribadi dan masalah bersama.

Semoga, Idulfitri dan Halal Bihalal kita tahun ini melahirkan kedewasaan dan pribadi yang berjiwa bijaksana. Agar kita tetap bisa berbeda meski kita cair salam suasana gembira di hari yang fitri ini. Sekali lagi, Selamat Hari Raya Idulfitri 1440 H Mohon Maaf Lahir Batin.

*Penulis: Fahri Hamzah (Wakil Ketua DPR RI)

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi