Soal Bahasa Inggris, Beda Jokowi Beda Prabowo

Soal Bahasa Inggris, Beda Jokowi Beda Prabowo

Prabowo Subianto, Calon Presiden Nomor Urut 02 dan Joko Widodo, Calon Presiden Nomor Urut 01. @Istimewa


SUARANASIONAL.ID - Kemampuan Prabowo Subianto, Calon Presiden RI nomor urut 02 di Pilpres 2019, dalam penguasaan bahasa Inggris mendapat pujian dari berbagai macam kalangan. Suara-suara pujian terhadap kualitas bahasa Inggrisnya seringkali memadati berbagai tipe media sosial dan media online. Baru-baru ini tepatnya pada 21 November 2018, Prabowo menghadiri “Indonesia Economic Forum” yang diselenggarakan di Hotel Shang-ri La, Jakarta. Prabowo mendapatkan panggung untuk berpidato didepan para petinggi-petinggi negara lain di forum tersebut.

Patut diberikan jempol untuk Prabowo, karena ketika berpidato dia mampu menyampaikan pemikiran-pemikirannya mengenai kondisi ekonomi rakyat Indonesia dalam bahasa Inggris yang baik dan benar. Salah satu yang disorotinya adalah pemerintah seharusnya memenuhi hak-hak rakyat untuk mendapatkan perkerjaan yang layak sehingga para lulusan kuliah tidak berakhir jadi “driver ojek online”.

Bahkan kemampuannya merangkai dan menuturkan kata-kata bahasa Inggris yang begitu luwes di awal pidato mampu menghipnotis peserta untuk ikut tertawa sambil tepuk tangan. Kualitas bahasa Inggris yang jarang dimiliki manusia Indonesia, biarpun sudah belajar bahasa Ingris bertahun-tahun lamanya. Bukan hanya itu, selama 1 jam lewat 3 menit, dari awal sampai selesai berbicara di Panggung, Prabowo hanya sekali-sekali saja lihat teks atau nyaris tanpa menggunakan teks.

Bagaimanapun, sudah menjadi pemahaman umum bahwa skill bahasa Inggris sangat berarti untuk dikuasai di era teknologi-informasi. Berbagai macam informasi dari segala penjuru dunia terfragmentasi dengan menggunakan bahasa Inggris. Jika tidak mampu memahami dan menggunakannya, maka konsekwensinya adalah ketertinggalan dan keterbelakangan.

Dalam artian rakyat saja dianjurkan minimal mampu berbahasa Inggris selain bahasa daerah dan bahasa nasional, apalagi sosok pemimpin yang akan memimpin bangsa yang memiliki berbagai macam kelebihan dan keunggulan - “paling luas wilayahnya di Asia Tenggara, negara maritim terbesar di dunia, kekayaan sumber daya alam di darat dan di laut melimpah, memiliki letak geografi yang sangat strategis, dan jumlah penduduk terbesar ke-empat dunia. 

Artinya, negara yang kaya akan segalanya - “the heaven of the world” - harus bisa dikelola dengan baik dan benar hanya untuk kepentingan rakyat (Pasal 33 UUD 45). Namun hal yang perlu diperhatikan dan dipahami adalah semua negara di dunia dalam memaksimalkan penggunaan kekayaannya, butuh kerjasama dengan negara lain. Butuh sosok pemimpin yang tegas dan mampu berkomunikasi secara baik dan benar dengan pemimpin-pemimpin dunia. Berani tampil dan menjaga marwah bangsa dalam forum-forum Internasional apapun bentuk dan levelnya. Namun, sungguh sangat disayangkan, selama 4 (empat) tahun belakang ini, marwah Indonesia sebagai bangsa besar tergorogoti dengan gaya Presiden Jokowi baik di forum Internasional maupun melakukan pertemuan bilateral dengan negara lain.

Di beberapa momentum pertemuan antar petinggi negara, Jokowi terlihat memaksakan menggunakan bahasa Inggris dalam menyampaikan pidatonya. Itu sangat fatal karena banyak banget kesalahan, apalagi tanpa teks mulai dari pronunciation (cara pengucapan), connecting word (menghubungkan kata), stressing (penekanan) dan grammar (struktur kalimat). 

Terkait dengan dialek itu tidaklah penting, yang penting adalah pesan yang disampaikan dapat dimengerti, tetapi jika banyak kesalahan seperti diatas maka pada akhirnya, mis-interpretasi bisa saja ada diantara para peserta pertemuan. Padahal sebenarnya, jika tidak bisa berbahasa Inggris, maka cukup menggunakan bahasa asal negara karena setiap utusan atau petinggi negara punya penerjemah sendiri. Misalnya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan yang dikenal gagah dalam berpidato dan kritikus ketidakadilan dunia kerap menggunakan bahasa Turki dalam pertemuan Internasional.

Selain itu, ketika Jokowi menghadiri forum di Brookings Institution Amerika pada Oktober 2015, Jokowi terlihat tidak mampu menjawab pertanyaan penanya. Jokowi malah melimpahkan ke menterinya untuk menjawab pertanyaan. Padahal Mr. Richard Brush selaku moderator dalam pertemuan sudah mengisyaratkan kepada Jokowi soal translator, namun dengan gesture yang ada, Jokowi enggan menggunakannya dan mempersilakan moderator melanjutkan dialog. 

Tidak sedikit nitizen baik berasal dari Indonesia maupun dari Internasional mencibir cara Jokowi yang kelihatan tidak bisa berbahasa Ingris tanpa teks. Dapat diasumsikan bahwa selain kebijakan politik luar negeri pragmatisme Jokowi menghambat dirinya hadir dalam forum bergengsi Internasional, juga karena persoalan penguasaan bahasa Inggris. Pada akhirnya, tugas kenegaraan yang seharusnya dijalankan oleh Jokowi, malah sering dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla seperti Konferensi Tingkat Tinggi di PBB. 

Perlu diketahui, bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang digunakan dalam pertemuan antar pemerintah dan pembuatan dokumen terdiri dari Arab, Inggris, Tionghoa, Perancis, Rusia dan Spanyol. Bahasa kerja Dewan Keamanan PBB adalah bahasa Inggris dan Perancis, sementara Majelis umum menggunakan tiga bahasa kerja diantaranya Inggris, Perancis dan Spanyol. Artinya, salah satu tolak ukur yang harus dikuasai oleh pemimpin-pemimpin dunia adalah penguasaan bahasa Inggris. 

Selain digunakan di lingkungan PBB, juga digunakan dalam berbagai aktivitas kenegaraan di dunia Internasional, apalagi bahasa Inggris adalah bahasa yang penggunanya paling banyak di dunia. Jadi urusan apapun yang dilakukan oleh kepala negara di laur negeri, bahasa komunikasi utamanya adalah bahasa Ingris, apakah ketika komunikasi antar kepala negara atau ke masyarakat Internasional sepertin pengusaha luar.

Ketika menimbang kapasitas penguasaan bahasa Inggris serta kemampuan menjawab pertanyaan wartawan antar Jokowi dan Prabowo, keduanya memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Prabowo yang begitu fasih menggunakan bahasa Inggris, lantang dalam berpidato berbahasa Inggris tanpa teks, serta mudah menjawab setiap pertanyaan wartawan, sementara Jokowi masih butuh teks dalam berbahasa Ingris, kalem dalam berpidato, dan sering mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan wartawan. 

Jokowi baru-baru ini tepatnya disaat “Hari Guru Nasional” yang jatuh pada 25 November 2018, tidak mampu menjawab pertanyaan wartawan soal solusi “Guru Honorer”. Itu bukan bertama kali Jokowi blunder ketika berhadapan sama wartawan. Beda dengan Prabowo, baik pertanyaan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris mampu dijawabnya, meskipun kadangkala dipelintir semisal soal dukungan Prabowo ke Palestina.

Kapasitas mantan Danjen Kopassus ini dalam menyampaikan pikiran-pikiran strategisnya tentang kondisi Indonesia khususnya yang berkaitan soal ekonomi, selain Prabowo menjadi pembicara di Indonesia Economi Forum enam hari yang lalu, dia juga dipercayakan oleh The Economist sebagai pembicara utama di acara The World in 2019 Gala Dinner pada 27 November 2018. The Economist adalah majalah terpercaya di London, Inggris yang populer dan paling terpercaya bagi para pemimpin dan pengambil keputusan dunia dalam ulasan mengenai isu sosial, ekonomi dan politik global. 

Irawan Ronodipuro, Direktur Hubungan Internasional Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, menjelaskan bahwa “Prabowo dalam kesempatan tersebut dipercayakan untuk menjelaskan pandangan strategisnya tentang bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Komunitas pengambil keputusan internasional ingin mengetahui lebih lanjut pandangan strategis Prabowo dalam membawa Indonesia menjadi negara berdaulat yang bisa berkontribusi untuk perekonomian global.” 

Pastinya dalam forum tersebut Prabowo kembali menggunakan bahasa Ingris dalam menyampaikan langkah strategisnya dalam membangun Indonesia kedepannya. Kualitas penguasaan bahasa Inggris Prabowo memudahkannya untuk berkomunikasi dengan masyarakat Internasional. Jadi benar apa adanya yang dikatakan oleh Buni Yani bahwa “tak bisa berbahasa Inggris dalam pergaulan dunia sama dengan 'bunuh diri. "Kalau mau negara ini sebetulnya menatap masa depan dalam pergaulan global, (mampu berbahasa Inggris) ya perlu. Tidak wajib menggunakan bahasa Inggris, tapi perlu". Dia juga menjelaskan bahwa sebelum pidato, presiden biasanya bicara secara informal dengan pemimpin negara lain dalam bahasa Inggris dan jika tidak bisa itu sangat memalukan, https://news.detik.com , 14/09/18). Itu disampaikan Buni Yani karena pengalamannya selama tujuh tahun belajar dan sekian tahun menghabiskan waktu untuk penelitian di luar negeri.

Mau tidak mau, pemimpin yang menguasai bahasa Inggris memiliki nilai plus dibandingkan yang tidak. Banyak masyarakat yang percaya bahwa pemimpin yang mampu menyampaikan pemikiran-pemikirannya dalam bahasa Inggris mampu meningkatkan marwah bangsa dan memperkuat bargaining position. 

Sehingga tidak ada lagi masyarakat Internasional yang mengejek pemimpin Indonesia karena persoalan bahasa dan miskin jawaban ketika dilancarkan pertanyaan. Oleh karena itu, persepsi masyarakat harus dibangun bahwa Prabowo Subianto yang selain memiliki kapasitas pengalaman memimpin dan tergolong berhasil, juga mampu menjaga harga diri bangsa dengan penguasaan bahasa Inggris. “Long Life Prabowo Subianto”

*Penulis: Syaifullah (Peneliti Nasional Institute

Prabowo: Saya Dituduh Tidak Beragama

SUARANASIONAL.ID – Prabowo Subianto, Calon Presiden RI Nomor Urut 02, berani dengan lantang mengungkapkan bahwa...

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi