Prabowo Katakan Indonesia Menjalankan Ekonomi Kebodohan

Prabowo Katakan Indonesia Menjalankan Ekonomi Kebodohan

Prabowo Subianto. @Istimewa

SUARANASIONAL.ID - Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyebut sistem ekonomi di Indonesia saat ini berada di luar rel yang tepat. Kondisi ekonomi Indonesia menurutnya bahkan lebih parah dibandingkan negara penganut neoliberal seperti Amerika Serikat.

Mantan Danjen Kopassus ini bahkan menilai ekonomi Indonesia sulit dijamah dengan istilah yang ada, mengingat keparahannya. Menurutnya, ekonomi yang dijalankan sekarang lebih tepat kalau disebut ekonomi kebodohan.

“Ini menurut saya bukan ekonomi neoliberal lagi. Ini lebih parah dari neolib. Harus ada istilah, ini menurut saya ekonomi kebodohan: The economics of stupidity. Ini yang terjadi” ujar Prabowo saat berpidato pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (11/10).

Prabowo memperkuat argumentasinya itu dengan mengangkat beberapa indikator seperti 1997 hingga 2014, dimana kekayaan Indonesia yang hilang atau dinikmati oleh pihak asing mencapai 300 miliar dollar Amerika Serikat. Dengan demikian, Indonesia hanya memiliki sedikit cadangan kekayaan nasional.

“Dengan tidak adanya cadangan kekayaan di dalam negeri tidak mungkin indonesia bisa menjadi negara yang sejahtera,” kata dia.

Ketua Umum Partai Gerindra itu juga mengatakan praktik perekonomian saat ini berlaku ironi terhadap UUD 1945. Dalam konstitusi, jelas disebutkan kalau pengelolaan sumber daya ekonomi dilakukan secara kekeluargaan. Kemudian, cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak harusnya dikuasai negara.

“Tapi kita lihat sekarang jutaan hektar tanah kita dikuasai oleh perusahaan swasta, mereka bawa uangnya ke luar negeri,” ucapnya.

Menurut Prabowo, hal lain yang tak kalah menarik tingkat ketimpangan masyarakat Indonesia. Ia mengatakan, gini ratio indonesia sekarang berada di angka 45,4. Artinya, kata Prabowo, 1 persen rakyat Indonesia menguasai 45 persen kekayaan nasional.

Kemudian, ia mengutip data lembaga Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), bahwa 1 persen masyarakat Indoensia menguasai 82 persen luas tanah di Indonesia.

“Semua kekayaan tanah itu tidak ke rakyat. Kalau sekian puluh juta hektar dikuasai oleh segelintir manusia, uang itu hanya dinikmati oleh segelintir itu,” imbuhnya.

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi