Mobil Esemka dan Politik Kamuflase

Mobil Esemka dan Politik Kamuflase

@Ilustrasi

SUARANASIONAL.ID - Mobil bermerek ‘Esemka’ yang digadang bakal diluncurkan bulan Oktober 2018 kini jadi sorotan. Publik kembali mempertanyakan wacana peluncuran mobil nasional buatan pelajar SMK yang hingga kini belum juga kelihatan.

Penantian ini memiliki sejarah panjang. Pembuatan (perakitan) mobil ini mula-mula dikerjakan oleh tangan dingin para siswa SMK Solo pada 2007. Prosesnya bisa dibilang berjalan mulus sejak awal.

Mobil Esemka ini sempat menyita perhatian masyarakat ketika kali pertama dilakukan uji emisi pada 2010. Meksipun gagal uji emisi, nasib pembuatan mobil ini bisa dibilang tidak mengalami hambatan berarti.

Belakangan, proses pembuatan mobil Esemka ini diasosiasikan dengan sosok Joko Widodo (Jokowi), karena kebetulan beliau saat itu menjabat sebagai wali kota Solo yang kerap mempromosikan mobil ini.

Banyak warga merasa bangga dengan kehadiran mobil ini sejak awal. Bagai pungguk merindukan bulan, kehadiran mobil Esemka seolah mimpi jadi kenyataan. Tak sedikit yang mengelukan, bahkan konon sudah banyak yang memesan.

Sayangnya, harapan besar masyarakat Indonesia itu kini seolah pupus. Kabarnya yang timbul-tenggelam selama 5 tahun terakhir membuat banyak pihak ikut bertanya-tanya. Hal itu diperparah dengan pernyataan calon wakil presiden, KH. Ma’ruf Amin beberapa pekan lalu.

Ma'ruf Amin ketika itu menyebut mobil Esemka yang pernah dirintis presiden Jokowi akan diluncurkan pada Oktober mendatang. “Bulan Oktober nanti akan diluncurkan mobil nasional bernama Esemka, yang dulu pernah dirintis oleh Pak Jokowi. Akan diproduksi besar-besaran,” ujar Ma'ruf Amin di Pondok Pesantren Nurul Islam pada 27 September 2018 lalu (Tempo.co, 4/11/2018).

Namun, hingga saat ini kabar peluncuran besar-besaran itu tak kunjung terealisasi. Melihat kebohongan ini ada yang kemudian menyebutnya sebagai hoaks belaka. Toh, publik memang sudah sering dibohongi.

Bulan Oktober pun sudah lewat. Sebagian mengatakan ini hanya bualan politik. Lainnya menyebut paling ini cuman wacana.

Setelah beberapa saat tak terdengar kabar, Ma’ruf akhirnya kembali membuka suara. Sepertinya beliau teringat ada janji yang butuh ditepati. Masih seputar mobil Esemka, menurut Ma'ruf soal peluncuran mobil Esemka itu tergantung pabrikannya yaitu PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK).

Ma’ruf akhirnya kembali menarik janjinya dan berkilah bahwa itu kembali pada pembuat mobilnya. “Itu terserah yang punya mobil, kita lihat saja nanti bisa diundur bisa juga dibatalkan,” kata Ma'ruf Amin di Tanah Baru, Depok, Minggu (Tempo.co, 4/11/2018).

Padahal, Ma’ruf sebelumnya pernah berujar bahwa ke depan mobil karya anak negeri itu menjadi mobil nasional. Alih-alih menjadi mobil kebanggaan nasional, aktivitas produksinya saja sampai sekarang masih banyak yang mempertanyakan.

Dalam penantian panjang itu kita teringat perkataan mantan Presiden ke-3 BJ Habibie bahwa isu pembuatan mobil Esemka ini terkesan main-main (tulisan miring–penulis).

Jelasnya beliau mengatakan, “Mobil Esemka itu cuma dolanan, pembuatannya tidak profesional. Masa anak-anak yang baru tamat sekolah menengah pertama (SMP) sudah mau jadi montir, ya, pasti belum ada pengalaman,” tandasnya dalam acara talkshow Merah Putih, 6 tahun lalu (Kompas.com, 7/3/2012).

Pernyataan Habibie di atas paling tidak sedikit mengobati kegundahan yang kini dirasakan banyak pihak. Jangan-jangan hal itu benar, sehingga publik tidak perlu berharap lebih dengan janji-janji kamuflatif. Sebab, kebanyakan menelan kepalsuan juga efeknya tidak baik bagi kesehatan.

Belakangan justru berkembang isu bahwa mobil Esemka yang selama ini digembar-gemborkan merupakan mobil buatan China. Jelas, ini semakin menambah sakit hati. Jadi, rindu yang sekian lama terpendam, ternyata datang kabar baru yang menyesakkan dada.

Ini persis seperti lirik lagu yang dipopulerkan artis Cita Citata: betapa sakitnya tuh di sini. Memang sakit.

Apakah ini yang Disebut Politik Kamuflase?

Mungkin cerita tentang mobil Esemka ini memiliki kemiripan dengan cerita-cerita lain yang sempat berhembus.

Sebelumnya kita pernah mendengar cerita tentang Pertamina yang akan lebih hebat dari Petronas Malaysia, kedaulatan petani melalui pendirian Bank Tani, penyediaan 10 juta lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi 8 persen, membangun Bank Khusus Nelayan, tidak bagi-bagi kursi Menteri ke partai pendukung jika menang, membeli kembali Indosat, dan masih banyak lagi lainnya.

Dengan demikian, teranglah sudah semua teka-teki yang ada. Toh, dari sekian banyak cerita tidak ada yang betul, apalagi hanya satu cerita tentang mobil Esemka. Sudahlah, anggap saja semua yang pernah terdengar hanyalah mimpi, dan kini kita tengah terbangun dari mimpi itu.

Sejenak, mari kita lupakan soal mobil-mobilan dan fokus pada cerita yang benar. Bahwa kini kita tengah memasuki tahun politik adalah sebuah fakta. Fakta selanjutnya, pemerintahan Jokowi-JK akan berakhir di tahun depan.

Kedua fakta di atas yang kini mestinya dijadikan fokus perhatian. Karena ini tahun politik yang bertegangan tinggi, maka apapun akan mudah diolah jika masuk ke dalam medan magnetnya.

Presiden Jokowi yang sebentar lagi lengser dari jabatan tentu mengonsolidasikan kembali seluruh kekuatan yang ada, jika ingin menjabat kembali. Dan, faktanya Jokowi kembali bertarung untuk merebut kembali kursi 01 RI.

Jokowi yang belum rela kursi empuk yang baru didudukinya selama kurang lebih 5 tahun berusaha agar tidak berpindah ke tangan lain. Ini sudah menjadi aksioma politik. Itulah kenapa kekuasaan perlu batasan. Sebab, kalau tidak ada batas waktu, siapapun pasti selalu ingin berkuasa selama-lamanya.

Namun, harus pula diingat bahwa kekuasaan yang terlalu lama digenggam seseorang berpotensi buruk. Ia bisa mudah disalahgunakan, karena asyik dan terlena. Kekuasaan memang nikmat. Itulah yang membuat penguasa mudah lupa dengan janjinya. Ini bukan tentang cerita mobil, ingat itu!

Karena ‘bahaya terlalu lama berkuasa’ itulah seorang ilmuwan politik terkemuka bernama Lord Acton pernah mengatakan: power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely. Bahwa kekuasaan cenderung korup, sehingga kekuasaan yang terlalu lama akan berpotensi pada korupsi secara absolut.

Premis di atas hemat saya sudah lazim ditemui. Sebab, korupsi terjadi karena ada akses. Derajat akses seseorang bergantung pada keistimewaan yang dimiliki. Ia bisa berupa jabatan, kekuatan atau kekuasaan.

Namun, umumnya praktik korupsi terjadi karena adanya relasi kekuasaan dalam ragam bentuknya. Sebab, dalam pengertian yang sederhana, korupsi merupakan penggunaan atau pengambilan sesuatu yang bukan haknya.

Karena itu, seorang penguasa yang terlalu lama menikmati kekuasaan akan mudah menyalahgunakannya. Terlebih, jika kekuasaan itu kurang dikontrol dengan baik dan terbuka untuk diawasi. 

Sementara, kehendak untuk berkuasa adalah insting alamiah yang dimiliki manusia. Tak satu pun yang mampu memberangus insting asali ini. Yang mungkin bisa dilakukan untuk mencegahnya adalah dengan cara melunakkannya melalui konsensus politik.

Sampai di sini muncul pertanyaan, lalu bagaimana dengan fakta politik hari ini?


*Penulis: Haris Samsuddin, S.Sos., M.AP (Peneliti Nasional Institut)

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi