Menyoal Reuni Akbar 212

Menyoal Reuni Akbar 212

@Ilustrasi


SUARANASIONAL.ID - Pada awal Desember, tepatnya pada tanggal 2 akan diadakan kegiatan Reuni Akbar 212 yang di selenggarakan oleh Persaudaraan Alumni (PA) 212 dalam rangka menyambung tali silaturahim sekaligus mengenang momentum bersejarah sekelompok umat islam atas kemenangan di Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Banyak pihak yang mendukung, namun ada pula yang mempersoalkan relevansi di adakan reuni 212. Pro-Kontra yang sekarang terjadi di tengah-tengah masyarakat tidak terlepas dari pelaksanaan yang bertepatan dengan momentum kontestasi elektoral Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Sangat naif bila kegiatan reuni 212 dilakukan hanya semata-mata untuk menyambung tali silaturahim, ataupun sekadar mengenang sebuah peristiwa sejarah, tanpa ada motif politik. Karena bagaimanapun juga, motif politik dari kegiatan tersebut sudah sangat jelas terlihat. Beberapa aktor intelektual yang ada dalam PA 212 sekarang ini ada yang masuk menjadi di tim pemenangan dari sala satu pasangan calon Presiden dan wakil presiden. Sehingga pokok persoalan yang harus ditelisik lebih jauh adalah mengapa reuni 212 harus dilakukan?

Sala satu pokok persoalan penting yang di hadapi oleh PA 212 adalah selama proses politik Pilpres belum mampu mereproduksi wacana dominan untuk menjadi konsumsi publik, baik itu lewat media arus utama ataupun media kontra-oligarki. Wacana dominan yang selama ini masih berkembang adalah wacana yang berasal dari para kandidat dan partai pengusung. Sedangkan kelompok 212 masih belum mendapatkan tempat yang cukup strategis dalam menciptakan atau meng-counter wacana yang ada. Oleh karenanya, kegiatan ini harus dipahami sebagai upaya untuk mereorganisasi dan konsolidasi yang disebabkan oleh dua persoalan mendasar yang ada di internal PA 212.

Persoalan pertama berkaitan dengan aktor sentral PA 212 Rizieq Syihab yang sekarang tidak hadir di tengah-tengah gelanggang kontestasi elektoral Pilpres 2019. Ketiadaan aktor sentral tentu memiliki implikasi praksis secara langsung, sebab bagaimanapun juga ketokohan Rizieq Syihab telah memainkan peranan penting dalam melakukan propaganda dan mobilisasi masa rakyat atau mereka yang mengidentifikasi diri sebagai umat. Dalam konteks Pilkada DKI Jakarta peranan tersebut dapat dilihat dengan jelas.

Persoalan kedua berkaitan dengan perbedaan pilihan politik di internal PA 212 yang terlihat dengan bergabungnya beberapa alumni 212 ke dalam kubu Jokowi-Maruf Amin, seperti Rzman Arif Nasution, Kapitra Ampera, Lukman Edy, dan sebagainya. Bahkan mereka yang sekarang berseberangan pilihan politik telah membentuk kelompok relawan “Eks 212 Kawal KH Ma’ruf Amin”. Persis di titik inilah tantangan yang dihadapi PA 212 adalah persoalan soliditas. Ketiadaan Habib Rizieq tentu membuka ruang adanya intervensi terhadap basis sosial yang ada dalam PA 212, baik di level elite ataupun grass root.

Bila reuni 212 kita letakan dalam dua persoalan diatas, maka jelas reuni tersebut berkaitan dengan upaya untuk menyelesaikan persoalan sesegera mungkin agar kemudian menentukan pilihan strategi dan taktik semacam apa yang akan digunakan. Dengan kata lain, Reuni 212 menandakan kalau pertarungan politik yang dimainkan oleh kelompok penekan (Pressure Group) benar-benar dimulai.

Realisme politik Pilpres sangat berbeda dengan Pilkada. Publik bisa melihat dengan jelas sikap politik Nahdatul Ulama (NU) struktural yang memiliki basis kuat di kalangan Islam tradisional. Bahkan partai politik yang merepresentasi basis pemilih Islam seperti PKB dan PPP sekarang berada di kubu Jokowi-Maruf. Tentu itu memiliki pengaruh signifikan dalam memengaruhi perkembangan wacana yang berbau sentimen identitas ke depan.

Terlepas dari bargaining position yang dimiliki oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Front Pembela Islam (FPI), ada fakta yang tidak bisa dibantah adalah basis sosial dari PA 212 merupakan aliansi lintas kelas atas nama umat. Artinya, basis sosial yang ada berasal dari berbagai organisasi Islam manapun, yang di satukan oleh isu atau kepentingan tertentu. Singkatnya, basis sosial yang rapuh hanya mungkin bertahan bila ada tokoh sentral yang bisa menjaga keutuhan dan persatuan. Dalam kondisi fragmentasi umat Islam Indonesia, baik dari segi isu ataupun institusi, pertanyaan pentingnya adalah apakah aliansi semacam itu dapat bertahan lama? Dan apakah PA 212 bisa menjadi kuat tanpa adanya ormas dan partai Islam?

Tesis Vedi Hadiz (2016) terkait Outcome Islam Politik di Indonesia tidak berada pada jalur penguasaan terhadap negara seperti yang dilakukan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Turki ataupun seperti Ikhawanul Muslimin (IM) di Mesir yang berhasil mendominasi Civil Society dalam waktu yang lama. Ketidak jelasan Ouctcome tersebut dikarenakan oleh tidak ada Borjuis Mulislim yang dominan dan terjadi kekosongan ruang politik yang semestinya di isi oleh kelompok muslim progresif.

Kegagapan borjuis muslim untuk beradaptasi dengan kondisi neoliberalisme dalam sistem demokrasi liberal sekarang, justru menghasilkan stagnasi dari institusi partai politik yang merepresentasikan umat Islam. Hal ini dapat dilihat dalam kasus PKS, PKB, dan PPP yang tidak bisa mengakar kuat dengan basis konstituen muslim atapun dengan elite borjuis. Selain itu, kegagapan kelompok progresif dalam memanfaatkan kekosongan ruang politik tidak terlepas dari sentimen komunis yang diwarisi Orde Baru. Pemberangusan kekuatan progresif di Indonesia sejak tahun 1965, menjadikan kelompok progresif tidak cukup memiliki pengaruh dalam arena politik.

Sampai pada titik ini, harusnya publik tidak lagi mempersoalkan reuni 212. Karena bila yang dipersoalkan adalah relevansi atau motif reuni, justru akan semakin memperkuat politik Identitas dengan implikasi buruknya adalah konflik sosial. Padahal persoalan yang mesti diuraikan sekarang adalah bagaimana mengungkap pertentangan kelas antara faksi borjuis dalam memperebutkan kekuasaan demi kepentingan akumulasi privat semata.

*Penulis: Rudi Hartono (Mahasiswa MPI UIN Maliki Malang)

Fadli: Ini Solusi Rezim Ala Sontoloyo

SUARANASIONAL.ID – Rizal Ramli, mantan Menteri Kordinator Kemaritiman RI, memberikan tanggapan terhadap statemen...

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi