Meneropong Aksi Bela Tauhid 211: Ada Apa?

Meneropong Aksi Bela Tauhid 211: Ada Apa?

Massa Aksi Bela Tauhid 211. @ Istimewa

SUARANASIONAL.ID - Tepat hari ini, Jumat (2/11), ribuan massa aksi kembali memadati Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Mereka mendesak pemerintah agar segera mengusut tuntas kasus pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid. Massa aksi tersebut merupakan gabungan massa yang mengusung gerakan bela tauhid jilid II.

Gerakan ini muncul sebagai respons atas aksi pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid yang dilakukan oleh anggota Banser bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional beberapa waktu lalu.

Gerakan aksi Bela Tauhid 211 ini sendiri semula direncanakan akan dilangsungkan di depan Istana Merdeka. Namun, massa tidak bisa memasuki area karena terhalau kawat duri dan pagar betis oleh polisi yang berjaga.  

Massa sebelumnya membentuk titik kumpul di masjid Istiqlal sembari menunaikan salat Jumat. Setelah itu, bergerak menuju Istana Negara.

Adapun, gerakan ini mengusung dua tuntutan utama kepada pemerintah. Seperti dinyatakan Jubir Front Pembela Islam, Slamet Maarif, tuntutan tersebut meliputi: (1) pemerintah diminta mengakui ada pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid pada Hari Santri Nasional (HSN) di Garut, Jawa Barat, dan: (2) meminta aparat penegak hukum menindak aktor intelektual insiden tersebut.

Membaca Motif Gerakan

Sampai sekarang sebagian masih bertanya-tanya, benarkah gerakan ini murni mendesak pemerintah supaya serius menegakkan hukum, atau karena motif tertentu.

Penulis sendiri menyoroti fenomena gerakan aksi Bela Tauhid 211 bukan sekadar gerakan biasa. Di sisi tertentu, kita harus akui bahwa mayoritas massa aksi tersebut adalah bagian dari alumni gerakan 212. Sebuah gelombang massa yang oleh Vedi Hadiz menyebutnya sebagai kebangkitan gerakan populisme Islam di Indonesia.

Meskipun secara kelembagaan gerakan ini kurang begitu terstruktur, modalitas kulutral yang menafasi gerakan ini sangatlah kuat.

Munculnya gerakan populisme Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari absennya gerakan politik Kiri. Ciri umum dari gerakan politik Kiri ialah selalu mengandaikan antagonisme kelas sosial.

Dalam pandangan gerakan Kiri, konflik sosial berbasis kelas merupakan warisan sejarah yang panjang. Asal usulnya dapat dilacak hingga pada fase awal terbentuknya kelas-kelas sosial. Hal itu dapat digali dalam riwayat formasi sosial feodalistik hingga memasuki masyarakat kapitalis.

Teristimewa pada masyarakat kapitalis ini, antagonisme kelas semakin sulit terbendung karena struktur sosial yang sarat eksploitatif. Masyarakat terbagi ke dalam dua kelas utama: kelas borjuis dan kelas proletar.

Kelas borjuis adalah mereka yang mengonsentrasikan harta kekayaan serta penguasaan atas seluruh sarana produksi. Sementara, kelas proletar adalah mereka yang tidak memiliki apa-apa selain tenaga yang diperjualkan demi upah yang pas-pasan.

Di Indonesia, denyut gerakan politik Kiri sempat ada, meskipun tidak berlangsung lama. Jejaknya bisa dilacak sejak 1920-an hingga 1960-an. Meskipun sempat jatuh-bangun, eksistensi gerakan Kiri ketika itu lumayan memberi pengaruh.

Namun, gerakan ini akhirnya lenyap bersamaan dengan tumbangnya Soekarno. Sampai sekarang, gerakan Kiri tidak hanya menjadi secarik kenangan masa lalu, melainkan menjadi ‘hantu’ yang menakutkan. Ini dikarenakan ‘Kiri’ kerap diidentikan dengan ‘Komunis’ atau PKI.

Pasca lenyapnya gerakan Kiri di Indonesia, hampir tak ada satupun gerakan sosial yang mengusung tema antagonisme kelas. Bersamaan dengan itu, lahirlah tren gerakan sosial baru (new social movement) yang lebih menitikberatkan pada isu-isu seputar keragaman budaya, gender, pluralisme, HAM, lingkungan, dan beragam warna isu sosial lainnya.

Nyaris, tak satupun di antara semangat gerakan sosial baru ini yang membawa jargon perjuangan kelas. Diam-diam isu kelas pun terkubur. Ketimpangan sosial dan ekonomi yang ekstrem tidak lagi menjadi sorotan utama. Subjek gerakan terpencar ke dalam isu-isu yang lebih partikular.

Ruang Kosong dan Prospek Gerakan Islam Populis

Kealpaan gerakan politik Kiri berimplikasi pada hilangnya arena perjuangan politik kelas. Konsekuensinya, isu utama (baca: ketimpangan ekonomi) yang menjadi fokus perjuangan politik Kiri ikut terkubur.

Alhasil, di tengah sepinya wacana perjuangan kelas yang menuntut agar disudahinya disparitas sosial akibat kesenjangan ekonomi esktrem, lahir sebuah gerakan yang–pada derajat tertentu–mampu mendobrak kebuntuan ekonomi.

Tentu saja tidak tepat menyamakan gerakan populisme Islam dengan gerakan politik Kiri. Hal ini mengingat, derajat konsentrasi perjuangan isu yang berbeda. Perbedaan paling fundamental dari kedua jenis gerakan ini adalah terletak pada subjek gerakan dan isu yang diperjuangkan.

Jika yang pertama subjeknya umat Islam lintas kelas, maka subjek gerakan kedua mayoritas adalah kaum buruh dan tani. Selain itu, jenis gerakan pertama mengusung isu toleransi, moral keagamaan, dan identitas sosial, maka gerakan kedua lebih pada isu ketidakadilan ekonomi.

Meski demikian, mereduksi gerakan populisme Islam semata-mata memperjuangkan pembelaan simbol dan identitas sosial adalah sesat. Kasus di Indonesia, khususnya gerakan 411, 212, hingga 211, tidak bisa sepenuhnya dipahami sebagai gerakan moral-kultural.

Temali sentimen budaya, sosial, politik dan ekonomi sulit dipisahkan. Ini dikarenakan mayoritas muslim pribumi adalah mereka–yang dari riwayatnya–selalu berada pada posisi marjinal. Hal inilah yang menjadi penyebab adanya kecemburuan sosial di kalangan masyarakat (umat Islam pribumi-red).

Api kecemburuan ini kerap meletup dalam momentum tertentu ketika saluran pelampiasannya terbuka, seperti pada peristiwa gerakan 411, 212, dan 211. Jadi, tinggal menunggu pancingannya saja, gerakan akan meledak secara otomatis.

Gerakan populisme Islam di Indonesia termasuk momentum yang mempertemukan irisan kekecewaan, sentimen, frustrasi, kecemburuan, dan kepentingan bersama di kalangan umat Islam. Mereka tidka hadir dalam ruang hampa. Akan tetapi, terbentuk dari akumulasi fakta material sepanjang sejarah.

Hemat saya, tuntutan yang disuarakan oleh massa aksi 211 terhadap pemerintah soal tanggapan atas kasus pembakaran bendera bertulisan kalimat tauhid hanyalah bagian tertentu saja dari beban persoalan lain (baca: ekonomi dan politik) selama ini.

Meskipun tidak menafikan, sentimen pembakaran bendera tersebut menjadi pemicu munculnya aksi unjuk rasa gerakan bela tauhid jilid 2.

Saya melihat gerakan islam populis ini memiliki prospek jangka panjang yang amat diperhitungkan di tanah air. Semoga, gerakan ini menjadi bagian penting dalam mendobrak kebekuan formasi sosial-ekonomi yang menyengsarakan umat selama ini.

*Haris Samsuddin, S.Sos., M.AP (Peneliti Nasional Institut)

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi