Memenangkan Gagasan

Memenangkan Gagasan

@iSTIMEWA


SUARANASIONAL.ID - Saat dihadapkan dengan Pilpres, Pileg, Pilkada, Pilgub, atau pemilihan kepala daerah lainnya, barangkali mayoritas berpikir masyarakat dan terlebih kaum elit politik negeri adalah, siapa yang akan menang?

Politik masihlah soal figur, sosok dan tokoh. Maka soal dalam Pemilihan Umum adalah popularitas, elektabilitas, akseptabilitas dan sebagainya. Dan yang jarang terafirmasi dengan baik adalah pokok pikiran dan gagasannya.

Jarang kita berimajinasi, pikiran dan gagasan pokok apa yang akan menang, gagasan dan konsep yang seperti apa yang harus kita menangkan siapapun yang memimpin. Di tengah buruknya tingkat literasi kaum politisi, mengakibatkan pola sistem komunikasi politik tereduksi sekedar olah gimmick-gimmick yang murahan dan membosankan.

Hal itu pula yang menjadikan demokrasi kita tak lagi tegak berdiri di atas fondasi pemikiran yang cemerlang. Akhirnya, jabatan-jabatan politik hanya diperebutkan dengan kekuatan modal bukan kekuatan konseptual dan gagasan. Dan benar, begitu roda pemerintahan berjalan, tidak terdapat kejelasan arah pembangunan, sistem budaya yang hendak dikukuhkan, dan malah makin banyak menimbulkan soal yang makin berlipat.

Bila dirunut hal itu bermula dari sistem rekruitmen politik oleh lembaga atau partai politik yang jarang mengedepankan kualitas pemikiran seorang calon dalam memahami persoalan-persoalan konseptual mengenai demokrasi, ekonomi dan politik. Bahwa persoalan sosial tidak saja dapat diselesaikan secara teknis apalagi jika hanya dengan pendekatan pragmatis.

Bahwa persoalan kebangsaan kita tidak saja pada aspek kebutuhan pembangunan fisik untuk menjadi sarana ekonomi masyarakat. Tapi butuh haluan mendasar mengenai konsep yang komphrensif dalam menggerakkan roda politik kenegaraan agar benar-benar integratif, sinergis, dan teratur antar masing-masing unit.

Dan terlebih penting, seorang pemimpin politik harus memiliki cita-cita yang kuat dalam membawa sebuah sistem pada kemajuan dan keadilan. Dan tidak sekedar berpikir teknis untuk menambah bangunan. Merupakan sebuah mindset yang salah jika pembangunan dimulai dengan menciptakan sarana tapi tak memiliki konsep untuk meningkatkan kualitas SDM kita.

Feodalisme Politik

Maka, jika pertarungan Pilpres selalu hanya dihadapkan untuk sekadar memilih karena ketokohan maka sesungguhnya dinamika politik kita berjalan dalam frame feodalistik walau tampil dalam bentuknya yang demokratis dengan kebebasan sistem memilih dan dipilih.

Feodalisme politik selalu ditegakkan berdasar ketokohan yang terlalu diagungkan tanpa mempertanyakan kualitas pemikiran, gagasan dan keberaniannya untuk berpihak kepada yang lemah. Dan saat ini feodalisme tersebut terus dirawat dalam nafas demokrasi dengan sokongan media massa yang mempromosikannya.

Pencerdasan demokrasi sesungguhnya dapat dibangun dengan baik jika kaum elit mau menguji konsep-konsep pembangunan dengan masyarakat melalui sejumlah diskursus yang sehat. Masyarakat dari pelbagai elemen profesi hingga kepala-kepala rumah tangga bisa diikutkan dalam diskursus tersebut. Bukan pada soal teknisnya seperti apa, tapi keterlibatan masyarakat dalam menguji sebuah kebijakan dan menawarkan kebijakan alternatif.

Namun sebagaimana banyak terdengar, seringkali banyak rencana kebijakan-kebijakan pemerintah terhenti di meja legislatif karena belum selesainya transaksi-transaksi kepentingan antara keduanya yang ujung-ujungnya adalah duit dan jabatan.

Hal itu menegaskan betapa ranah kebijakan dalam wewenang pemerintah diolah dalam transaksi politik dan tak memiliki relasi yang kuat dengan suara masyarakat. Masyarakat tak lagi mengerti apa yang sesungguhnya diperjuangkan oleh pemerintah, dan alasan, argumen serta data seperti apa yang dirujuk oleh pemerintah untuk menetapkan suatu kebijakan.

Maka terlihat pemerintah seolah merupakan entitas yang lain dari rakyat, tidak tersatukan dalam kesatuan kenegaraan. Untuk itu, rakyat hanya berlaku sebagai obyek yang tak memiliki posisi untuk menentukan apa yang baik dan tidak bagi kehidupan sosialnya.

Lagi-lagi, narasi di atas bukanlah soal teknis penyelenggaraan pemerintahan, namun konsep paradigmatik sistem politik yang melihat pemerintah dan rakyat dalam satu kacamata kenegaraan.

Maka berupaya untuk memenangkan gagasan dalam arena Pemilu merupakan keharusan untuk mengubah jalannya sejarah bangsa ini agar tak selalu bising dengan urusan identitas, keshalehan personal, gimmick, dan polesan-polesan retorik lainnya.

*Penulis: Fikri Husein (Peneliti National Institute)

Prabowo Akui Didikan Para Senior

SUARANASIONAL.ID - Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto menghadiri acara silahturahmi dengan para purnawirawan...

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi