Media Sosial Sasaran Empuk Kampanye Capres 2019

Media Sosial Sasaran Empuk Kampanye Capres 2019

Mochammad Afdli Fajar, Mahaiswa. @iSTIMEWA


SUARANASIONAL.ID - Siapapun yang nantinya akan menjadi presiden Indonesia 2019-2024, itulah pilihan dari masyarakat Indonesia. Daftar nama calon presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 telah ditetapkan. Telah banyak kampanye yang dilakukan untuk pencarian dukungan paslon. Media sosial adalah alat kampanye yang paling populer di era milenial. Update dari seluruh kegiatan calon presiden dan wakil presiden dapat dengan cepat menyebar melalui media sosial. Apabila dilihat dari fenomena yang ada, Pilpres yang mempertemukan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno ini diprediksi lebih memanas dibandingkan pada 2014.

Di era milenial, masyarakat telah sampai pada tingkatan masyarakat digital informasi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat dapat mengakses informasi dan mengutarakan pendapatnya dengan mudah. Dari berbagai keuntungan media sosial yang makin luas, menjadikannya pilihan utama bagi paslon presiden dan wakil presiden untuk mengumpulkan massa sebagai sumber kekuatan demi memenangkan Pilpres 2019.

Media sosial merupakan media yang sangat efektif dalam menyebarkan informasi. Kecepatan berita yang tersebar di media sosial membawa pengaruh yang signifikan pada paslon prsiden dan wakil presiden. Namun, apakah kampanye melalui media sosial akan membawa dampak baik untuk masyarakat?. Seperti halnya yang diketahui, sosial media justru memuat berbagai opini mengenai berita hoax yang tidak tahu kebenarannya. Sikap masyarakat dipengaruhi oleh perkembangan jaman dengan mudahnya mengawasi jalannya pilpres melalui layar telepon genggam. Seolah menjadi permasalahan yang kompleks saat media sosial menjadi alat kampanye namun berakhir saling menjatuhkan kubu lawan calon presiden.

Di Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada saat adanya pendaftaran calon presiden, persaingan sudah mulai tampak di antara pendukung keduanya. Apakah bangsa Indonesia akan baik-baik saja dengan adanya fenomena ini?. Saling menyebarkan dukungan dan melontarkan serangan dengan adanya topik permasalahan yang digunakan untuk mejatuhkan pihak lawan terjadi di media sosial. Pada saat pihak oposisi menyerang maka pihak lawan juga akan langsung melawan. Terdapat berbagai julukan yang disampaikan pendukung kedua kubu tiap-tiap paslon presiden dan wakil presiden, sebagai bentuk serangan yang diberikan terhadap lawan.

Di media sosial terdapat pernyataan yang dicari adalah sebuah pembenaran bukan kebenaran. Jadi sejauh mana perang penggiat media sosial pada saat ini? Pencarian dukungan melalui kampanye sudah dimulai dan media sosial adalah salah satu bentuk media kampanye yang dimanfaatkan oleh kedua kubu lawan. Berbagai kegiatan kampanye dilakukan. Dari kampanye putih hingga kampanye hitam yang dilaksanakan dengan trik dan cara-cara kotor. Tidak hanya saling melempar komentar, umbaran hoax dan caci maki membuat semakin ramai, yang di dalamnya terdapat pengalihan isu terhadap kebenaran fakta.

Isu-isu yang dilontarkan pada kubu lawan bermaksud merusak karakter lawan dengan tidak ada kebenaran yang jelas disebut Black Campaign. Media sosial yang digunakan sebagai media perang dan ujaran kebencian dapat menjadi ukuran yang berdampak di dunia nyata. Isu negatif sering menjadi daya tarik publik media sebagai senjata menjatuhkan lawan dengan serangan politik.

Pelaksanaan black campaign melalui media sosial dengan penyebaran berita hoax kepada masyarakat untuk menjatuhkan kubu lawan Capres melalui isu yang tidak benar disebar menggunakan whatsapp, facebook, twitter, dan Instagram. Contoh kasus yang terjadi dalam perjalanan Pilpres 2019 adalah kasus Ratna Sarumpet. Kasus ini diviralkan oleh teman-teman Ratna yang merupakan Timses Prabowo. Pengungkapan isu yang menyalahkan pemerintah yang sedang menjabat telah menganiaya beliau telah disebar luaskan melalui media sosial.

Pergerakan solidaritas oleh Hariman Siregar sebagai aktivis reformasi dan aktifis #2019GantiPresiden dilakukan Pemerintah karena ketidak senangan pemerintah atas kritik yang diberikan oleh Ratna Sarumpaet. Pemikiran ini muncul karena berita yang tidak jelas asal usul kebenaran dan penyalahan atas sikap pemerintah, pasti terdapat sebuah kepentingan politik yang dimanfaatkan mengingat ini adalah tahun politik dan kampanye. Hal ini dapat dijadikan alat untuk mengurangi elektabilitas pasangan lawan politik.

Adanya fenomena pada sosial media mengenai politik sangat menarik, banyak tagar-tagar yang ramai di media sosial. Perang sindir, hujatan, dan saling cibir oleh pendukung masing-masing paslon mewarnai jalannya pemilihan presiden yang digelar bulan April mendatang. Dukungan masyarakat akan terbelah oleh pasangan Jokowi-KH Ma’rif amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.Sebelum penetapan capres dan cawapres, perang tagar sudah terjadi. Mulai dari #2019GantiPresiden dan juga #2019TetapJokowi. Perang di sosial media bahkan telah berlanjut sampa dunia nyata.

Menyebarkan berita hoax yang berisi menjatuhkan lawan menjadi tren dalam Pilpres tahun ini. Tiap kubu saling membela dengan pembenaran mengenai isu yang dilempar oleh kubu lawan.“Dalam fenomena ini terdapat dua strategi yang dilakukan yaitu membuat narasi dengan tujuan untuk mempromot dan menjatuhkan. Menjatuhkan diambil dari kubu lawan mengenai apa yang kurang, yang pasti pihak ini tidak akan mem-promote kekurangan dari kubu masing masing,” jelas Ismail Fahmi, peneliti media sosial yang juga pengelola Drone Emprit.

Kampanye melalui media sosial membawa keuntungan bagi para politisi dengan semakin dikenalnya paslon Capres oleh masyarakat. Keuntungan ini, justru dijadikan senjata yang empuk sebagai alat yang ampuh dalam proses kampanye. Dengan perang tagar oleh masing-masing Paslon Pilpres menunjukkan semakin banyak dukungan yang didapatkan. Berbeda halnya dengan pihak paslon capres yang semakin dikenal, media sosial justru membawa kerugian bagi masyarakat dan pemerintah yang menganut politik putih.

Adanya berita yang simpang siur membuat kepercayaan masyarakat menjadi berubah-ubah pada setiap paslon Capres. Tak hanya itu, media sosial dapat menyebabkan pemecah belah pemikiran yang dibawa sampai kehidupan nyata. Kepercayaan masyarakat kepada pemerintah semakin menurun seiring dengan penyebaran berita hoax yang marak terjadi. Sehingga dampak media sosial jelas signifikan terlihat pada kampanye tahun 2019.

Menjadi masyarakat yang sadar dengan politik, jangan sampai menutup mata dan telinga terhadap kebenaran dan fakta yang ada. Di era politik seperti saat ini, menjadi masyarakat yang bijak sangat diperlukan. Informasi dari berbagai sosial media mengenai perkembangan politk sangan mudah dan cepat untuk diakses. Perang mention dan saling reetwet merupakan fenomena yang sering terjadi di sosial media. Kesadaran masyarakat mengenai sosial menjadi ruang publik perlu ada. Jangan jadikan komentar dan kebencian di sosial media menjadi hal yang dapat menutup kebeneran mengenai fakta. Bentuk dukungan terhadap masing-masing paslon adalah hak setiap warga Negara, tetapi menjadi pendukung yang bijak sangat diperlukan.

Membuat warga negara Indonesia mempercayai janji-janji manis yang akhirnya tidak terlaksana jangan sampai terjadi. Jangan membuat trauma mengenai janji janji saat kampanye yang dilontarkan oleh tiap paslon. Partisipasi masyarakat secara aktif dalam demokrasi sangat penting. Kepedulian masyarakt akan politik, jangan dijatuhkan karena ulah para petinggi negara ini, sehingga masyarakat apatis terhadap pemerintah.

Sebagai mahasiswa yang berintelektual dalam menghadapi era milenial saat ini,menyaring berita yang muncul di media sosial perlu dilakukan. Mahasiswa dapat merubah pandangan masyarakat awam mengenai isu politik yang tengah hangat dibahas. Berita hoax yang tersebar mengenai paslon capres yang tidak diketahui sumbernya dapat diatasi oleh mahasiswa. Fungsi sosial masyarakat yang diemban seorang mahasiswa harus mampu mempengaruhi masyarakat menjadi lebih selektif dalam menerima berita yang tersebar.

Isu-isu mengenai politik dapat dikaji oleh mahasiswa sebagai ancaman perpecahan bangsa Indonesia. Perpecahan yang terbentuk dapat secara perlahan menjadikan Indonesia sebagai negara yang cacat. Mahasiswa dapat mengatasi hal ini, dengan gerakan melawan menggunakan intelektual yang bermoral sebagai tindakan penolakan adanya berita hoax yang tersebar. Kampanye oleh paslon capres dapat berjalan tanpa adanya black campaign sebagai senjata mentauhkan lawan. Persaingan kampanye yang bersih dapat terwujud dengan timbulnya kesadaran berpolitik oleh masyarakat yang memiliki pengetahuan mengenai politik.

Pilpres yang sebentar lagi akan dilaksanakan dapat terwujud dengan baik menggunakan cara yang bersih. Mahasiswa diharap dapat membantu pemerintah dalam mewujudkan politik putih. Sehingga nantinya siapapun presiden yang terpilih merupakan pilihan masyarakat Indonesia yang tidak hanya memberikan janji manis saja. Namun, dapat bertanggung jawab atas janji yang telah disampaikan saat kampanye. Hal itu dapat terwujud dari media sosial yang digunakan sebagai alat kampanye yang dimanfaatkaan sebaik baiknya dalam penyampaian visi dan misi oleh masing-masing pasangan Capre-Cawapres. 

*Penulis: Mochammad Afdli Fajar  (Mahasiswa D3 Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang)

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi