Keluarga Faktor Utama Seseorang Keluar dari Pusaran Terorisme dan Radikalisme

Keluarga Faktor Utama Seseorang Keluar dari Pusaran Terorisme dan Radikalisme

Mantan narapidana kasus bom bunuh diri di areal masjid Polres Cirebon Echo Ibrahim (Baim) dalam diskusi yang digelar oleh Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI) Salemba beberapa waktu lalu. @Istimewa


SUARANASIONAL.ID - Mantan narapidana kasus bom bunuh diri di areal masjid Polres Cirebon Echo Ibrahim (Baim) menceritakan awal mula keterlibatannya dalam terorisme hingga akhirnya ikut berperan dalam pemboman Polres Cirebon. Menurutnya, keluarga menjadi faktor utama yang membuat ia berubah untuk tidak menjadi radikal. 

"Memang sulit, tapi harus konsisten, sekali hijrah ya harus total hijrah," ujarnya dalam diskusi yang digelar oleh Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI) Salemba beberapa waktu lalu.

Baim meyakini bahwa dalam banyak kasus, keluarga dapat menjadi faktor pertimbangan utama yang membuat seseorang keluar dari pusaran radikalisme dan terorisme. Baim mengakui, bahwa keluarga itu menjadi titik balik seseorang untuk berubah ke jalan yang benar.

"Saya mulai mikir bahwa ketika saya ngebom hingga dipenjara, ada hak-hak keluarga seperti ibu saya, anak saya, istri saya yang saya dzalimi. Keluarga saya, terutama anak mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari tetangga sekitar karena dicap anak teroris,” ungkapnya.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) 2017-2022 Margaret Aliyatul Maimunah menilai, pada dasarnya peran perempuan dalam terorisme sudah ada sejak dulu, tetapi hanya sebagai supporting agent. Saat ini, perempuan ditempatkan langsung di garda depan (sebagai pelaku pengeboman) sehingga perannya menjadi lebih aktif. 

Menurutnya, pola-pola radikalisme dalam keluarga umumnya didominasi oleh indoktrinasi dari orang tua terhadap anaknya. Apapun konteksnya, anak tetaplah ditempatkan sebagai korban. Dalam Undang Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang baru, kejahatan terorisme yang melibatkan anak-anak sudah diatur dalam pasal 16A yang menyatakan, "Setiap orang yang melakukan Tindakan Pidana Terorisme dengan melibatkan anak, ancaman pidananya ditambah 1/3 (sepertiga)”. 

Meskipun demikian, kata ia, pada era revolusi digital, anak justru bisa menjadi aktor yang mampu menjadikan keluarganya berpemikiran radikal. 

“Sekarang ini, media sosial penting sekali untuk dikontrol karena anak-anak bisa komunikasi langsung dengan tokoh-tokoh teroris yang bergerak di internet atau melalui medsos,” katanya. *

Fadli: Ini Solusi Rezim Ala Sontoloyo

SUARANASIONAL.ID – Rizal Ramli, mantan Menteri Kordinator Kemaritiman RI, memberikan tanggapan terhadap statemen...

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi