Jokowi Mengagungkan Perdagangan Bebas, Tapi Tidak Mau Perang Dagang?

Jokowi Mengagungkan Perdagangan Bebas, Tapi Tidak Mau Perang Dagang?

Presiden Joko Widodo. @Istimewa

SUARANASIONAL.ID – Presiden Joko Widodo telah mengagung-agungkan sistem globalisasi dan perdagangan bebas namun disisi lain dia melancarkan kritikan kepada negara-negara ekonomi maju dalam pidatonya di acara ‘Annual Meeting IMF World Bank Plenary’, di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, Jum’at (12/10).

Menurut Jokowi, perdagangan bebas, keuangan terbuka dan globalisasi memberikan banyak manfaat kepada negara maju maupun negara berkembang. Selain itu, ia juga mengapresiasi atas dorongan negara-negara maju kepada negara berkembang untuk membukan diri dan ikut perdagangan bebas dan keuangan terbuka dalam beberapa puluh tahun terakahir ini.

“Dalam beberapa decade terakhir, negara-negara maju telah mendorong negara ekonomi berkembang untuk ikut membuka diri dan ikut dalam perdagangan bebas dan ikut dalam keuangan terbuka. Globalisasi dan keterbukaan ekonomi ini telah memberikan banyak sekali keuntungan baik bagi negara maju maupun negara berkembang. Berkat bantuan dan kepedulian negara maju, negara-negara berkembang mampu memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi dunia,” tuturnya.

Jokowi pun menyayangkan atas prilaku negara-negara ekonomi maju yang ibarat film ‘Game of Throne’, bersaing satu sama lain sehingga, menurutnya, keseimbangan kekuatan dan hubungan antar negara sangat rapuh. Apalagi, kata dia, dampaknya pada harga minyak yang semakin meningkat dan kekacauan pasar di negara-negara berkembang. 

“Namun akhir-akhir ini hubungan antar negara-negara ekonomi maju semakin lama semakin terlihat seperti Game of Throne. Balance of power dan aliansi antara negera-negara ekonomi maju sepertinya telah mengalami keretakan. Lemahnya kerjasama dan kordinasi telah menyebabkan terjadinya banyak masalah seperti peningkatan drastis harga minyak mentah dan juga kekacauan di pasar mata uang yang dialami negara-negara berkembang,” tandasnya.

“Saat ini kita sedang menghadapi ancaman global yang tengah meningkat, perubahan iklim telah meningkatkan intensitas badai dan topan di Amerika Serikat hingga Filipina, sampah plastic di laut hingga seluruh penjuru dunia mencemari pasokan makanan di banyak tempat.  Ancaman global yang tumbuh besar tersebut yang hanya bisa kita tanggulangi jika kita bekerjasama,” imbuhnya.

Jokowi melanjutkan, baru lima hari yang lalu panel antara lima negara terkait perubahan iklim IPCC (Intergovernmental Panel On Climate Change), bapak Antonio Grace serta Sekertaris Jenderal PBB dengan tegas mengingatkan kita kembali bahwa waktu sudah sangat mendesak bagi kita untuk bertindak dalam skla besar-besaran guna mencegah kehancuran dunia akibat iklim global yang tidak terkendali, kita segera meningkatkan investasi tahunan secara global sebesar 400 persen untuk energy terbarukan.

“Untuk itu kita harus bekerja bersama menyelematkan kehidupan bersama kita. Untuk itu kita harus bertanya apakah kita sekarang saat yang tepat untuk rivalitas dan kompetisi? Atau saat ini merupakan waktu yang tepat untuk kerjasama dan kolaborasi. Apakah kita sibuk untuk bersaing dan menyerang satu sama lain sehingga kita gagal menyadari adanya ancaman besar yang membayangi kita semua, apakah kita gagal menyadari ancaman besar yang menyerang negara kaya dan miskin oleh negara besar ataupun negara kecil,” bebernya. 

Ia pun kembali menyinggung ‘Gama of Throne’ yang dengan penuh keyakinan mengetahui akhir dari film tersebut yang akan di putar tahun depan (2019). Menurutnya, film tersebut akan mengisahkan pesan moralitas tentang dampak dari perselisihan kepada pihak baik yang menang maupun yang kalah.

“Tahun depan kita akan menyaksikan session Game of Throne, saya bisa memperkirakan bagaimana akhir ceritanya. Saya yakin ceritanya akan berakhir dengan pesan moral bahwa konfrontasi dan perselisihan akan mengakibatkan penderitaan bukan hanya yang kalah tapi juga bagi yang menang,” jelasnya.

“Ketika kemenangan sudah dirayakan dan kekalahan sudah diratapi barulah kemudian kedua-duanya sadar bahwa kemenangan maupun kekalahan dalam perang selalu hasilnya sama yaitu dunia yang porak-poranda. Tidak ada artinya kemenangan yang dirayakan ditengah kehancuran, tidak ada artinya menjadi kekuatan ekonomi yang besar ditengah dunia yang tenggelam,” lanjut Jokowi.

Setelah menyinggung session terakhir film ‘Game of Throne”, Jokowi kemudian menegaskan dengan sebuah harapan agar pertarungan ekonomi global yang penuh persaingan segera diakhiri karena ketika tidak diakhiri maka dampaknya lebih besar dibandingkan krisis financial tahun 2008 silam. 

“Saya ingin menegaskan bahwa saat ini kita akan masuk pada session terakhir dari pertarungan ekspansi ekonomi global yang penuh rivalitas dan persaingan, bisa jadi situasi yang lebih genting dibanding krisis financial global 10 tahun yang lalu,” ujarnya.

“Kami bergantung pada bapak ibu semuanya, para pembuat kebijakan moneter dan fisikal dunia untuk menjaga komitmen kerjasama global. Saya sangat berharap bapak ibu akan berkontribusi dalam mendorong para pemimpin-pemimpin dunia untuk mensikapi keadaan ini secara tepat, diperlukan kebijakan moneter dan kebijakan fisikal yang mampu menyangga dampak dari perang dagang distrupsi teknologi dan ketidakpastian pasar,” pungkas Jokowi.

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi