Jelang Pemilu Serentak 2019

Jelang Pemilu Serentak 2019

@Ilustrasi


SUARANASIONAL.ID - Jelang beberapa bulan lagi rakyat Indonesia akan kembali memasuki bilik suara. Kali ini masyarakat tidak hanya memilih para wakil rakyat di parlemen, melainkan presiden dan wakil presiden terbaru untuk periode 2019-2024.

Pemilu serentak (Pileg, Pilpres) rencana akan digelar pada 17 April 2019 mendatang. Khusus pemilihan umum presiden dan wakil presiden akan diikuti oleh dua pasangan kandidat.

Pertama adalah presiden petahana Joko Widodo bergandengan KH Ma’ruf Amin (Jokowi-Ma’ruf). Sedangkan pasangan kedua adalah Prabowo Subianto dengan Sandiaga Salahuddin Uno (Prabowo-Sandi).

Masing-masing pasangan kandidat memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Kalau dilihat dari kekuatan pendukung di level elit maupun basis keduanya pun sama-sama kuat.

Jokowi-Ma’ruf kini didukung oleh enam partai koalisi yang terdiri dari partai PDIP, Golkar, Hanura, PKB, Nasdem dan PPP ditambah beberapa partai kecil seperti PSI, Perindo dan PKP.

Sementara di kubu Prabowo-Sandi terdapat partai Gerindra, Demokrat, PAN, PKS dan partai Berkarya.

Jika dibandingkan dengan pemilu presiden dan wakil presiden tahun sebelumnya, komposisi koalisi partai pengusung dan pendukung masing-masing paslon kali ini sedikit mengalami perubahan.  

Pada Pilpres 2014, terdapat dua kubu koalisi pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden. Kubu pertama adalah Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang mengusung pasangan Jokowi-JK yang terdiri atas partai PDI-P, PKB, NasDem, Hanura, dan PKP Indonesia.

Sedangkan, kubu kedua ialah Koalisi Merah Putih (KMR) yang mengusung pasangan Prabowo-Hatta, terdiri dari Partai Gerindra, PAN, PPP, PKS, PBB, dan Golkar.

Jika dicermati, perubahan komposisi koalisi jelang Pilpres 2019 menunjukkan beberapa partai yang dulu bergabung dalam partai pendukung Prabowo kini beralih mendukung Jokowi. Meskipun demikian, PPP belakangan mengalami perpecahan antara yang merapat ke kubu Jokowi-Ma’ruf dan yang memilih Prabowo-Sandi.

Sementara, Partai Demokrat yang awalnya memilih netral kali ini memberikan dukungan terhadap pasangan Prabowo-Sandi.

Akan tetapi, yang membedakan pemilu kali ini dengan pemilu 2014 silam adalah keserentakannya dengan pemilu legislatif atau Pileg. Jadi, antara Pileg dan Pilpres digabung dalam satu momentum pemilu yang akan dihelat bersama pada April 2019 mendatang.

Karena kedua jenis pemilu ini digabung, membuat partai-partai pengusung yang tidak memiliki delegator pada salah satu kandidat sedikit dilema.

Hal itu disebabkan fokus kerja partai kurang maksimal antara mengkampanyekan pasangan Capres-Cawapres yang diusung atau memprioritaskan kampanye legislatif. Sebab, ada kekhawatiran tersendiri bagi partai-partai nondelegator pasangan Capres-Cawapres di masing-masing kubu yang bakal kehilangan eksistensi dalam momentum Pileg.

Masyarakat akan lebih fokus pada partai pengusung peserta Pilpres seperti PDI-P dan Gerindra. Sedangkan partai-partai lainnya hanya mengharapkan efek ekor jas (coattail effect). Partai-partai yang memperoleh efek ekor jas yang besar kemungkinan mampu meraih suara besar di pemilihan legislatif nanti. Sebaliknya dengan partai-partai yang memiliki coattail effect rendah, mereka akan kehilangan banyak suara di legislatif karena kurang diekspos.

Meski demikian, melihat semangat dari masing-masing kubu partai koalisi saat ini sama-sama memiliki perjuangan memenangkan kandidatnya di Pilpres 2019.

Soal siapa yang terpilih sebagai presiden dan wakil preside ada di tangan rakyat. Rakyatlah yang akan menentukan siapa yang layak menjadi pemimpin republik Indonesia untuk 5 tahun akan datang. Baik Jokowi-Ma’ruf maupun Prabowo-Sandi, masing-masing pasangan kontestan memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kini, rakyatlah yang memutuskan.

*Penulis: Jusri M (Pengamat Politik)

Prabowo: Saya Dituduh Tidak Beragama

SUARANASIONAL.ID – Prabowo Subianto, Calon Presiden RI Nomor Urut 02, berani dengan lantang mengungkapkan bahwa...

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi