Humanisme Sebagai Aksi Nyata Seorang Prabowo

Humanisme Sebagai Aksi Nyata Seorang Prabowo

Prabowo saat berbincang dengan KW Wilfrida ketika bebas dari hukuman mati di Malaysia. @Istimewa

SUARANASIONAL.ID, Seorang humanis dan nasionalis sejati selalu akan merasa tergugah saat melihat saudaranya yang sebangsa dan setanah air mengalami penderitaan atau ancaman terlebih saat terancam dan terjepit di negeri asing. Jiwa nasionalisme akan bangkit karena ia merasa kebangsaan ini adalah sebuah keluarga besar. Terdapat imajinasi kolektif yang mengendap dalam benak seorang nasionalis-humanis hingga memunculkan ekspresi pembelaan atas hak-hak manusia untuk menjalani hidup yang layak. Keadilan merupakan idealitas yang akan selalu diperjuangkan oleh seorang nasionalis-humanis karena hanya dengan memperjuangkan keadilan akan hak-hak kemanusiaan manusia jiwa seorang humanis menjadi hidup.

Untuk kesekian kalinya, seorang Prabowo Subianto melakukan aksi humanistik dengan terlibat mendorong terbebasnya Wilfrida Soik dari ancaman hukuman mati dari pengadilan Malaysia. Menurut cerita yang disampaikannya bahwa pertama kali dia mendengar kasus yang melilit Wilfrida dari kader Partai Gerindra Nusa Tenggara Timur (NTT) pada awal September 2013. Lalu kemudian dia bergerak cepat dengan terbang langsung ke Malaysia menemui TKI asal Belu, NTT, itu di penjara Kota Bharu, Kelantan, 13 November 2012. Gerak cepat dan gesit dan dengan keberanian dan ketangkasannya merupakan karakternya yang amat terlatih dan telah menjadi insting humanistiknya hingga tanpa pikir panjang dia merasa harus membantu dan mengawal untuk mendapatkan keadilan pada warga yang berusaha membela dirinya dari ancaman yang menyakiti atau bahkan nyaris menghabisi nyawanya.

Perjuangan Prabowo dan segenap pihak yang ikut serta dalam proses pengawalan pengadilan untuk terdakwa Wilfrida Soik menemukan kesuksesannya. Majelis hakim Mahkamah Rayuan Putrajaya membebaskan Wilfrida dari hukuman penjara setelah divonis tidak bersalah melakukan pembunuhan terhadap Yeap Seok Pen, Selasa, 25 Agustus 2015. Vonis tersebut menguatkan kembali keputusan Mahkamah Tinggi Kota Bharu sebelumnya yang membebaskan Walfrida. Setelah sebelumnya Wilfrida dituduh membunuh majikannya pada 7 Desember 2010.

Buruh migran itu bekerja kepada Yeoh Meng Tatt untuk menjaga orang tuanya, Yeap Seok Pen, 60 tahun, yang mengidap penyakit parkinson. Prabowo sendiri turut serta menghadiri sidang di Mahkamah Rayuan Putrajaya. "Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Perjuangan kontinyu tanpa pamrih dari seorang patriot bangsa Indonesia untuk menyelamatkan nyawa sesama warga negara yang menjadi tertuduh di negeri Jiran akhirnya berhasil," demikian kata Wasekjen Gerindra Sudaryono. Prabowo memang tidak pernah kenal lelah memberikan dukungan dan bahkan secara konkrit dia menyewa pengacara kelas wahid Malaysia, Tan Sri Shafee, untuk membebaskan Wilfrida dari hukuman mati. Prabowo menegaskan aksinya ini tulus, bukan sekadar mencari muka. 

Pembelaan Prabowo terhadap warga Kabupaten Belu akhirnya mendapat apresiasi dari warga setempat bahkan seperti terungkap dari Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (Padma) Indonesia wilayah Nusa Tenggara Timur yang menilai bahwa kemenangan pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa (Prabowo-Hatta) di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, sebagai bentuk apresiasi dan ungkapan terima kasih dari tenaga kerja wanita (TKW) Wilfrida Soik karena telah dibantu pembebasannya oleh Prabowo.

Dengan itu Koordinator Padma NTT, Felixianus Ali, mengatakan, apa yang telah dilakukan Prabowo kepada Wilfrida tidak akan dilupakan oleh keluarga Wilfrida dan juga warga Belu. “Warga Belu sudah sejak awal telah nyatakan tekadnya untuk memenangkan Prabowo sebagai presiden. Warga Belu sangat menaruh hormat dan mengapresiasi kerja keras Prabowo yang berperan besar membantu dan membebaskan Wilfrida Soik dari jeratan hukuman mati di Malaysia,” jelas Felixianus sebagaimana diberitakan oleh kepada Kompas.com, Jumat (18/7/2014).

Prabowo bagi orang Belu merupakan sosok negarawan Indonesia yang sangat nasionalis dan pluralis. Prabowo tidak hanya berbicara, tetapi juga membuktikan kepada masyarakat dengan aksi nyata. "Nah di sinilah dukungan untuk Prabowo dicurahkan sepenuhnya oleh warga Belu dengan memberikan suara saat pencoblosan 9 Juli 2014 lalu,” kata Felixianus. “Kalau misalkan nanti Prabowo kalah dalam pencapresan, tentunya warga Belu akan mengalami suatu kegagalan besar, karena di mata warga Belu, Prabowo adalah pejuang kemanusiaan yang benar-benar banyak berkorban dalam membantu masyarakat kecil. Sosok seperti Prabowo untuk warga Belu tidak akan tergantikan oleh siapa pun,” demikian pungkasnya.

Sikap kemanusiaan bagi Prabowo haruslah berwujud pada pembelaan akan hak-hak kehidupan manusia itu sendiri. Dan Prabowo membuktikan sikap dan idealitasnya tersebut dengan tindakan konkret yang tanpa basa-basi. Bahkan sebenarnya dia banyak terlibat dalam membebaskan TKI yang mendapatkan masalah hukum di luar negeri atas perlakuan yang tidak adil dari majikannya. Namun walau tanpa sorotan media massa ia tetap melakukannya karena panggilan moralnya tak mengharuskannya untuk melakukan pencitraan. Karena secara resmi telah ia berikrar untuk mencurahkan kehidupannya demi keselamatan bangsa dan negaranya.

*Penulis: Fikri Husein (Peneliti Nasional Institut)

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi