Faktor Kepentingan Sebabkan Konflik Suriah dan Timur Tengah Umumnya

Faktor Kepentingan Sebabkan Konflik Suriah dan Timur Tengah Umumnya


SUARANASIONAL.ID - Dewan Konsulat Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Suriah Ahsin Mahrus, Lc., MA menjelaskan faktor geopolitik Suriah yang dicap tidak seberuntung negara lain. Suriah berbatasan dengan Israel yang sampai saat ini masih dalam status berperang. Selain itu, Suriah juga berbatasan dengan Lebanon yang menjadi tempat perseteruan antar Iran dan Arab Saudi. Arab Saudi dan Iran memiliki agenda untuk menjadi pemimpin kawasan. Arab Saudi membangun Gulf Cooperation Council (GCC) setelah tidak berdaya di Liga Arab. Iran juga membangun aliansi dengan faksi Syiah di beberapa negara.

"Untuk membaca konflik di Suriah, dan umumnya Timur Tengah adalah konflik “kepentingan”, bukan agama. Bagaimana awalnya Mesir dan Suriah yang sama-sama mengusung ide nasionalisme Arab, mulai berseteru akibat kebijakan Suriah terkait pipa minyak dari Iran menuju Eropa," jelas Ahsin saat diskusi di Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) UI, beberapa waktu lalu. 

Fakta lain yang dipaparkan Ahsin, terkait geografi wilayah yang dikuasai beberapa faksi. Saat pecah Arab Spring dan deklarasi ISIS, pemerintah Asad hanya menguasai 20 persen wilayah Suriah. Konflik kepentingan jelas terasa di Suriah. Contohnya, terkait jual beli senjata yang masif di wilayah perbatasan, perpindahan milisi foreign terrorist fighter (FTF) yang berasal dari negara teluk. 

"Kasus Ghouta saat dibebaskan oleh tentara Suriah, mayoritas milisi justru bukan orang Suriah, melainkan FTF dari Eropa dan negara teluk," ujarnya. 

Dengan dinamika konflik yang berkepanjangan, menurut dia, konflik Suriah dapat dilihat sejak pemberontakan kelompok Ikhwanul Muslim (IM) di Hamma pada 1983. 

Masalah lain adalah suku Kurdi di Utara Suriah. Sehingga, saat pemberontakan FSA, simpatisan IM banyak ikut serta untuk membalas kejadian 1983. Konflik ini makin pelik saat ISIS mulai menyerang dari Irak, Raqqah menjadi basis ISIS.

Konflik kepentingan ini makin menjadi saat agama menjadi bumbu. Konflik, ini justru dibumbui dengan konflik Sunni-Syiah, padahal ulama besar Suriah, menegaskan ini bukan konfik sekretarian. Raqqah menjadi basis ISIS, Aleppo menjadi basis FSA, Damaskus basis pemerintahan, Kobane menjadi basis Kurdi. 

"Hal ini makin pelik karena banyak negara yang menjadikan Suriah sebagai ladang proxy war, antara Amerika dan Rusia, Iran dan Arab Saudi. Kurang lebih, terdapat 100 faksi yang bertikai di Suriah yang memiliki agenda masing-masing sesuai kepentingan donator," katanya. 

Ahsin menjelaskan, banyak WNI yang terjebak doktrin kelompok radikal sehingga banyak yang bertempur di Suriah. Bagi Ahsin, menjadi masalah adalah saat para milisi asal Indonesia ini dikembalikan ke Indonesia, karena tentu akan mentransfer pengetahuan terkait aksi radikal mereka di Suriah. 

"Klaim lain terkait kesholehan kelompok radikalis. Mereka mengaku paling sholeh. Nyatanya, banyak aturan agama yang dilanggar habis, seperti Jihad Nikah, yakni perempuan dinikahkan dengan beberapa lelaki dalam satu malam," jelasnya. 

Ketua Program Studi Kajian Terorisme UI, Muhamad Syauqillah, P.hD., mengatakan, Timur Tengah memang menjadi penting bagi Indonesia, apapun yang terjadi di Timur Tengah pasti menjadi perhatian publik Indonesia. Mengapa demikian? Indonesia yang secara mayoritas beragama Islam memiliki relasi historis cukup panjang, terutama soal transmisi keilmuan. 

"Sayangnya, transmisi keilmuan yang telah berjalan berabad lamanya memunculkan sebuah anomaly, yakni ekstrimisme," tandasnya. 

Fadli: Ini Solusi Rezim Ala Sontoloyo

SUARANASIONAL.ID – Rizal Ramli, mantan Menteri Kordinator Kemaritiman RI, memberikan tanggapan terhadap statemen...

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi