Dukung Prabowo-Sandi, Kades Nono Resmi Diberhentikan

Dukung Prabowo-Sandi, Kades Nono Resmi Diberhentikan

Suhartono (Nono), memakai kaca mata dan topi hitam. @iSTIMEWA


SUARANASIONAL.ID - Suhartono atau biasa disapa Nono, Kepala Desa (Kades) Sampangagung, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto, resmi diberhentikan sementara waktu dari jabatannya lantaran terjerat kasus pelanggaran Pemilu. 

Pemeberhentian tersebut disampaikan oleh Tatang Marhendrata, Kabag Hukum Setda Kabupaten Mojokerto. 

Menurut Tatang, pemberhentian sementara Kades Nono sudah berlaku sejak 3 Januari 2018 hingga massa penahanan di Lapas Klas IIB Mojokerto selesai dijalani berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati Mojokerto.

“SK Bupati Mojokerto sudah turun tanggal 3 Januari 2019. Isinya menghentikan sementara Kades Sampangagung,” tuturnya, Kamis (10/01).

Dalam SK Bupati Mojokerto tersebut, lanjut Suhartono, juga memuat penunjukkan langsung Pelaksanaan Tugas (PLT) Kades Sampangagung.

“Sekdes Sampangagung yang ditunjuk sebagai Plt,” tandasnya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) meminta majelis hakim agar menjatuhi Suhartono, Kepala Desa Sampangagung, Kutorejo, Mojokerto, bersalah karena melakukan tindak pidana pemilu dengan mengadakan penyambutan terhadap Calon Wakil Presiden RI Sandiaga S Uno.

Suhartono dituntut hukuman 6 bulan penjara dengan masa percobaan selama 1 tahun dan denda Rp 12 juta subsider 2 bulan kurungan.

Menurut Suhartono, hukuman yang akan dikenakan kepadanya itu tidak adil, lantaran pembakar bendera Tauhid saja hanya 5 hari hukuman dengan denda 2 ribu rupiah.

"Ini tidak adil, hanya menyambut saja dituntut 1 tahun dan denda Rp 12 juta. Sedangkan yang pembakar bendera tauhid hanya 5 hari dan Rp 2.000," tuturnya sebelum masuk ke mobilnya di halaman kantor PN Mojokerto, Jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko, Selasa (11/12/2018).

Jaksa menilai Suhartono yang biasa dipanggil Kades Nono telah terbukti melakukan tindak pidana pemilu, yaitu melakukan tindakan yang dapat menguntungkan Cawapres Sandiaga Uno, seperti halnya diatur dalam Pasal 490 juncto Pasal 282 UU RI No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

Suhartono sendiri menyangkal akan hal itu karena diirnya tidak tahu menahu bahwa penyambutan Sandiaga adalah masuk dalam pelanggaran Pemilu, apalagi belum ada sosialisasi dari Bawasu (Badan Pengawas Pemilu).

Ia pun tidak tanggung-tanggung menilai rezim yang berkuasa saat ini adalah benar-benar sontoloyo.

"Ini ketidaksengajaan dan ketidaktahuan karena tidak ada sosialisasi dari Bawaslu. Saya melakukan itu karena ketidaktahuan. Berarti ini rezim-rezim sontoloyo ini," terangnya sembari memekikkan takbir yang diikuti sejumlah pendukungnya.

Prabowo-Sandi Dijemput Kemenangan

SUARANASIONAL.ID - Prabowo-Sandi, pasangan Capres-Cawapres dalam Pilpres ini, terlihat sangat fokus menempatkan...

Jokowi Semakin Mempersempit Pasarnya

SUARANASIONAL.ID – Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR RI, mengungkapkan prediksinya bahwa pasangan Capres-Cawapres...

Noblesse Oblige

SUARANASIONAL.ID - Saya mendengar Sebuah Pidato berjudul “Noblesse Oblige” tadi sore, Sabtu (23/3), sekitar...

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi