Di 2018, Volume Impor Beras Terbesar Ketiga Sejak Orde Baru

Di 2018, Volume Impor Beras Terbesar Ketiga Sejak Orde Baru

@iSTIMEWA


SUARANASIONAL.ID - Faisal Basri, Pengamat Ekonomi dan Politik, hari ini (Kamis, 10/01) kembali membuat status tentang impor beras di akun twitter pribadinya @FaisalBasri setelah membuat tweet mengenai di 2018 Indonesia mengalami defisit perdagangan terburuk sepanjang masa.

Faisal secara tersirat menegaskan di tweet-nya tersebut bahwa pemerintah Indonesia kembali melakukan impor beras dalam jumlah besar dengan melihat perbandingan impor beras dari masa orde baru hingga 2018 kemarin.

Berdasarkan data (BPS) Badan Pusat Statistik yang menyertai statusnya, Faisal mengingatkan kepada masyarakat Indonesia bahwa pemerintah di 2018 telah mengambil kebijakan melakukan impor beras sehingga di tahun tersebut menunjukkan tingkat impor beras terbesar ketiga sejak Jaman Soeharto atau setelah di tahun 1999 dan 2011.

“Volume impor beras Januari-November 2018 terbesar ketiga sejak Orde Baru,” tulis ekonom tersebut.

Tabel:

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyesalkan kebijakan Impor beras yang tidak berpihak kepada Petani.

Hal tersebut disampaikannya pada acara diskusi Ketahanan Pangan Nasional Tahun Politik 2019 yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN) di Menara Kadin, Jakarta, Senin (24/09/2018).

"Saya miris negara agraris besar masa pangan impor. Apalagi kalau saya jadi petani, seolah-olah kita tidak berpihak ke petani. Jadi bagaimana kita berpikir sinergi membangun ketahanan pangan," kata Buwas.

Dalam diskusi tersebut Buwas menyampaikan bahwa sejauh ini, Bulog telah menyerap beras sebanyak 1,4 juta ton atau 52,2 persen dari target sebesar 2,72 juta ton pada akhir 2018. “jadi jangan bicara data saya salah, sekarang penyerapan beras 1,4 juta bukan 800 ribu. Jadi jangan ngarang-ngarang, kalua tidak tahu. Itu mengacau,” ujarnya.

Selain itu mengacu pada data yang ada di  kementerian perdagangan yang mengharuskan impor oleh sebab asumsi penyerapan di bawah 1 juta ton. Enggar memaparkan, ''Kalau stok Bulog di bawah 1 juta ton dan/atau kenaikan harga di atas 10%, berarti stok beras pada posisi rawan. Wakil Presiden menyampaikan itu di dalam rapat. Itu diterima dan disetujui," tutur Enggar, Jumat (14/9/2018).

Sementara itu sebagaimana dirilis dalam situs Kementerian dalam Negeri, bahwa Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengakui adanya penerbitan izin impor beras sebesar 1,8 juta ton dalam tiga tahap pada tahun ini. 

Persetujuan impor tahap I dan II telah keluar pada Februari 2018 dan Mei 2018, masing-masing 500.000 ton. Sisanya dikeluarkan pada Juli 2018 dan masa berlakunya habis pada bulan lalu. (http://litbang.kemendagri.go.id).

Dalam diskusi ini Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan Kadin Indonesia Franciscus Welirang mengatakan pentingnya pembahasan ketahanan pangan terutama terkait kesibukan Pilpres dan Pileg 9 bulan ke depan.

"Kita ingin membicarakan ketahanan pangan, sembilan bulan ke depan akan ada sibuk Pileg dan Pemilihan Presiden, tetapi ada hal penting menjaga ketahanan pangan dan bagi kita di Kadin adalah pembahasan terkait komoditas beras, jagung, gula dan kedelai," tegasnya.

Prabowo-Sandi Dijemput Kemenangan

SUARANASIONAL.ID - Prabowo-Sandi, pasangan Capres-Cawapres dalam Pilpres ini, terlihat sangat fokus menempatkan...

Jokowi Semakin Mempersempit Pasarnya

SUARANASIONAL.ID – Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR RI, mengungkapkan prediksinya bahwa pasangan Capres-Cawapres...

Noblesse Oblige

SUARANASIONAL.ID - Saya mendengar Sebuah Pidato berjudul “Noblesse Oblige” tadi sore, Sabtu (23/3), sekitar...

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi