Dari Politik Sontoloyo ke Politik Genderuwo

Dari Politik Sontoloyo ke Politik Genderuwo

Genderuwo. @Ilustrasi

SUARANASIONAL.ID - Jangan tebar politik ketakutan, marilah kita bergembira menyambut pileg dan pilpres. Kira-kira begitulah pesan Jokowi sebelumnya.

Jokowi berpesan agar para kontestan politik mengedepankan kesantunan dan etika dalam berpolitik.

“Kontestasi harus saling menghargai. Kontestasi harus saling menghormati. Tidak saling mencemooh,” begitulah beliau berujar saat memberikan sambutan pada Rapimnas Partai Perindo di JCC, Senayan, Rabu (IDNTimes.com, 21/3).

Jokowi juga tak lupa mengingatkan kepada hadirin dalam acara tersebut agar bergembira menyambut pesta pileg dan pilpres. “Namanya kan pesta. Jangan sampai ada rasa kekhawatiran dan ketakutan,” timpalnya.

Namun, semuanya berubah. Perangai Jokowi yang semula terlihat calm dan ramah tiba-tiba jadi galak dan tempramen. Perubahan sikap ini tentu ada alasan. Tapi sabar, jangan bilang ini karena kursinya mau digeser.

Mari kita kembali ke topik. Jadi, sikap Jokowi bisa dibilang inkonsisten. Eitss,,,apa maksudnya? Artinya, Jokowi menelan sendiri omongannya.

Bukti bahwa Jokowi tidak mampu memegang lisannya belakangan terkuak. Pasalnya, ia mengeluarkan bahasa kurang sedap didengar. Apalagi, beliau seorang public figure. Jokowi menuduh (rival?) politiknya dengan bahasa “politikus sontoloyo”.

Presiden Joko Widodo menggunakan istilah “politikus sontoloyo” saat acara pembagian 5.000 sertifikat lahan di Lapangan Sepakbola Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (23/10/2018).

Entah apa maksud beliau mengatakan begitu. Namun, baru-baru ini ia sempat mengatakan jika pernyataannya itu lantaran kesal. Oh, jadi kalau kesal, harus keluar kata-kata tak pantas ya, ok baik.

Seperti dikutip Tempo.co, (9/11/2018) Jokowi mengatakan: “Inilah kenapa kemarin saya kelepasan, saya sampaikan ‘politikus sontoloyo’ ya itu. Jengkel saya. Saya nggak pernah pakai kata-kata seperti itu. Karena sudah jengkel ya keluar. Saya biasanyangerem, tapi sudah jengkel ya bagaimana,” katanya.

Tak butuh lama, istilah tersebut langsung ramai diperbincangkan masyarakat maya. Warga yang dulu jarang, bahkan tak pernah dengar istilah sontoloyo pun jadi kepo. Di sini, Jokowi berhasil menggugah masyarakat agar selalu mempelajari kosakata baru.

Sayangnya, kali ini Jokowi tidak hanya sukses mengajak masyarakat belajar hal baru, tapi sekaligus menunjukkan watak aslinya. Karena ini, publik pun jadi tahu siapa sosok Joko “Jokowi” Widodo yang selama ini disanjungi.

Berkat terminologi baru dalam ‘nomenklatur politik’ tersebut, sebagian warga pun tak ketinggalan memakainya dalam pergaulan sehari-hari. Bahkan, ada teman saya yang karena jengkel juga terhadap politisi saat ini menyebut: dasar politisi sekarang ini banyak yang sontoloyo.

Jadi, sontoloyo kini menjadi diksi baru yang kerap dijadikan bahan candaan maupun ejekan. Namun, apa sih makna sontoloyo. Menurut KBBI, istilah sontoloyo mengandung arti: konyol, tidak beres, bodoh. Selain itu, Sontoloyo juga kerap dipakai sebagai makian.

Jika demikian, pantaskah itu diucapkan oleh seorang tokoh masyarakat? Apalagi, presiden? Waduh!!! Kok, bisa ya?

Siapapun pasti setuju bahwa tokoh masyarakat adalah sumber panutan. Bagaimana masyarakat diminta meneladani, kalau pemimpinnya saja tidak memberi contoh yang baik. Ya bisa ajalah, kan presiden Jokowi juga seorang manusia: pasti tak luput dari salah dan dosa. Iya juga sih.

Tapi, biar bagaimana pun dia tetap presiden. Setidaknya mampu mengendalikan kecenderungan mengeluarkan kata-kata tak pantas. Sebab, jangan salahkan masyarakat kalau nanti meniru hal buruk dari penguasa.

Toh, yang awalnya mengajak semua pihak menyambut gembira momen pemilu serentak 2019 dari presiden sendiri. Jokowi lah yang meminta agar berpolitik yang santun, tidak dengan emosi. Lalu, kenapa justru dia sendiri yang melanggar.  

Bolehlah merasa panik, karena takut kursinya diambil. Tapi, tidak mesti juga dengan sikap yang seolah menunjukkan tidak adanya kewibawaan sebagai seorang presiden. Bukankah Jokowi sendiri berpesan agar berkontestasilah yang sehat.

Usai istilah sontoloyo, kini muncul lagi istilah baru, yakni politik genderuwo. Istilah ini diucapkan Jokowi setelah tensi politik menjemput pilpres 2019 mulai memanas.

Seperti diketahui, Genderuwo adalah mitos Jawa tentang sejenis bangsa jin atau makhluk halus berwujud manusia (mirip kera) dan bertubuh besar dengan warna kulit hitam kemerahan. Makhluk ini digambarkan masyarakat sebagai makhluk jahat yang menyeramkan.

Jokowi memakai istilah Genderuwo dengan merujuk langsung pada dinamika kontestasi politik saat ini yang tidak menunjukkan adanya keadaban. Hmmm, emangnya siapa ya yang tidak beradab.

Jadi, selama masa kampanye ini presiden Jokowi memproduksi istilah-istilah baru dalam daftar kosakata politik yang justru terkesan “rendahan”. Entah, istilah apa lagi yang akan diproduksi Jokowi menjelang pilpres nanti. 


*Penulis: Haris Samsuddin, S.Sos., M.AP (Peneliti Nasional Institut)

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi