Cebong dan Kampret dalam Tafsir Sosiologis

Cebong dan Kampret dalam Tafsir Sosiologis

@Ilustrasi


SUARANASIONAL.ID - Istilah cebong dan kampret kini mewarnai media massa maupun media sosial. Kedua istilah digunakan untuk melabelkan massa pendukung pasangan Capres-Cawapres Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga.

Seperti diketahui, cebong adalah barisan pendukung Jokowi-Ma’ruf. Sedangkan para pendukung Prabowo-Sandiaga dicap kampret.

Akan tetapi, kapan asal mula kedua istilah ini muncul? Sampai sekarang tak satupun yang tahu persis kemunculannya. Meski demikian, baik istilah cebong maupun kampret baru populer setelah pemilu 2014.

Tapi, mengapa pendukung Jokowi-Ma’ruf disebut cebong, sementara Prabowo-Sandiaga dilabeli kampret?

Untuk menguak asal muasal pelabelan tersebut, saya berusaha menelusuri beberapa sumber yang hasilnya sebagai berikut.

Pertama, istilah cebong yang identik dengan pendukung Jokowi-Ma’ruf. Konon pelabelan ini bermula dari karakter presiden Joko Widodo (Jokowi) yang senang memelihara kodok. Menurut beberapa sumber, di istana Bogor terdapat sebuah kolam peliharaan kodok milik Jokowi. 

Hal itu diperkuat dengan postingan gambar Jokowi yang sedang melepaskan sejumlah kodok di lokasi Kebun Raya Bogor. Publik bahkan sudah tahu bahwa Jokowi adalah sosok penggemar kodok. Barangkali dari sinilah muncul istilah cebong.

Cebong sendiri berarti anak kodok. Karenanya, istilah cebong yang berkembang belakangan merupakan bahasa sarkastis untuk bahan ejekan dan sebagainya. Ia tidak sekadar istilah yang digunakan untuk mengidentifikasi pihak pendukung, melainkan dipakai untuk ejekan.

Kedua, kata kampret untuk pendukung Prabowo-Sandiaga. Seperti halnya cebong, kampret pun muncul beriringan dengan masifnya istilah cebong. Lantas, bagaimana kata ini bisa disematkan kepada pendukung Prabowo-Sandi? 

Diduga istilah ini awalnya berkaitan dengan koalisi merah-putih (KMP) yang menjadi oposisi Jokowi-JK pada pemilu 2014. Dari KMP ini kemudian berkembang menjadi KMPret. Nah, dari KMPret inilah akhirnya jadilah kampret. 

Meskipun barisan koalisi oposisi ini kini sudah bubar, karena sebagiannya sudah bergabung dalam barisan cebong, istilah kampret tetap dipakai untuk melabeli pendukung Prabowo. Jika dilihat artinya, kampret berarti anak kelelawar.

Jadi, cebong yang kini merupakan massa pendukung Jokowi-Ma’ruf adalah pasukan anak kodok, sementara pendukung Prabowo-Sandi adalah barisan anak kelelawar. vis-à-vis cebong dan kampret ini sekarang sedang menghiasi halaman media maupun ruang diskursus publik lainnya.

Cebong dan Kampret dalam Tafsir Sosiologis 

Lalu, bagaimana memahami kedua terminologi dalam konteks sosiologis? Pada kesempatan ini saya meminjam perspektif kesadaran kolektif Durkheim sebagai pisau bedah.

Durkheim memahami konstruksi kesadaran kolektif sebagai sebuah fakta sosial dengan segala hukum yang dimilikinya. Sebuah fakta sosial (social fact) adalah barang bersama (kolektif) yang memiliki kekuatan pengikat bagi setiap individu.

Fakta sosial sama sekali tidak berkaitan dengan kemauan individu. Ia memiliki daya paksa bagi setiap individu untuk bertindak atau bertingkah menurut kaidah-kaidah yang berlaku di dalmnya. Sebagai contoh, warisan budaya yang dipakai oleh sebuah komunitas. Terlepas individunya mengelak, keberadaan budaya tersebut melampaui keinginan personal seseorang. 

Fakta sosial karenanya merupakan barang bersama. Ia ada dan nyata. Karena ia bukan milik individu, seperti halnya budaya, kehadirannya tidak bergantung pada kemauan seseorang. Inilah yang membuat seorang anggota komunitas yang mewarisi sebuah budaya dari leluhurnya sulit untuk mengelak darinya. 

Karena ia ibarat baju bersama yang dipakai oleh seluruh anggota masyarakat, kemampuannya untuk bertahan sangat bergantung pada masyarakat itu sendiri. Itulah mengapa sebuah tradisi, hukum, falsafah hidup komunitas, identitas kelompok, dan beragam konvensi sosial lainnya sangat bergantung pada masyarakat itu sendiri sebagai penggunanya.

Dengan demikian, membedah kesadaran kolektif antara cebong dan kampret sebagai fakta sosial harus dipahami dalam kerangka konstruksi sosial.  

Menurut Durkheim, terdapat tiga preposisi dalam konstruk kesadaran kolektif ini (Veeger, 1985). Pertama, ada kejadian-kejadian di mana orang bertindak atas cara yang sebenarnya tidak sesuai dengan pikiran individual mereka.

Misalnya, kita melihat bahwa di waktu perang, orang merasa wajib untuk mengangkat senjata dan berangkat ke medan perang, padahal seandainya tidak diwajibkan mereka pasti tidak mau. Jadi, mesti ada suatu kesadaran kolektif atau umum, yang nyatanya lebih kuat.

Kedua, kesadaran kolektif berlainan dari kesadaran individual. Ini dapat dilihat melalui terlihat tingkah laku kelompok yang berlainan dari tingkah laku individu.

Ketiga, menurut angka statistik, presentase gejala sosial seperti menikah, melakukan tindak pidana, bunuh diri dan sebagainya, terlihat stabil. Padahal, yang menikah atau berbuat nekad ialah individu-idividu yang pikiran dan tujuannya tidak stabil. Jadi, mesti ada faktor lain di samping kemauan individual, yang melatarbelakangi keajegan angka statistik.

Ketiga preposisi Durkheim di atas dibuat semasa abad ke-19, berdasarkan tinjauan fakta sosial saat itu. Riset sosiologis Durkheim mengambil unit analisis yang luas dan bervariasi. Karena itu, dalam bahasan ini penulis membatasi hanya pada kajian tentang kesadaran kolektif.

Bertolak pada preposisi di atas, dapat dibuat kesimpulan sederhana bahwa kesadaran kolektif adalah sebuah wujud kesadaran yang dimiliki anggota sebuah kelompok atau masyarakat. Namun, sebuah kesadaran kolektif berbeda dengan kesadaran individual.

Jika kesadaran individual murni keinginan atau dorongan intrinsik dari masing-masing individu, maka kesadaran kolektif adalah sebuah bentuk kesadaran yang lahir  karena adanya efek dari luar (pengaruh kelompok).

Karena itu, untuk memahami kesadaran kolektif cebong dan kampret harus dimulai dari mendefiniskan apa itu cebong dan kampret. 

Cebong dan kampret dalam konteks ini tidak lagi dimaknai sebagai anak kodok maupun anak kelelawar. Kedua istilah ini kini merujuk langsung pada citra imajiner yang ditujukan kepada pembelahan dukungan politik antara mereka yang merapat ke kubu Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi.

Dengan demikian, baik para cebong (cebongers) maupun kampret (kampreters) hanya dapat dipahami melalui pendefinisian atas identitas kelompoknya masing-masing. Mereka yang sudah mendefinisikan dirinya sebagai barisan cebongers akan sulit bertingkah layaknya kampreters.

Hal ini dikarenakan identitas kolektif yang melekat pada masing-masing kelompok akan menjadi parameter tingkah laku. Mengharapkan seorang kampreter bertindak sebagai cebonger bukan saja sulit, melainkan mustahil. Kecuali, individu yang bersangkutan sudah bersedia menanggalkan identitas kolektifnya.

Seorang cebonger akan berpikir dan bertingkah layaknya para cebongers lainnya. Sebaliknya, seorang kampreter akan bertindak menurut norma dan nilai yang berlaku bagi komunitas kampreters.   

Mengapa itu bisa terjadi? Seperti telah dijelaskan di awal, karena mereka terperangkap dalam konstruksi kesadaran kolektif. Jika pikiran akan menuntun tindakan seseorang–sebagaimana anda adalah apa yang anda pikirkan–maka konstruksi berpikir sebuah kelompok akan menyediakan kerangka bertingkah atau bertindak bagi anggotanya.

*Penulis: Haris Samsuddin, S.Sos., M.AP (Peneliti Nasional Institut)

Fadli: Ini Solusi Rezim Ala Sontoloyo

SUARANASIONAL.ID – Rizal Ramli, mantan Menteri Kordinator Kemaritiman RI, memberikan tanggapan terhadap statemen...

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi