Apakah Kita Memasuki Perang Dingin II?

Apakah Kita Memasuki Perang Dingin II?

@Ilustrasi

SUARANASIONAL.ID - Wakil Presiden Amerika Serikat Michael Pence menuduh China melakukan dosa yang berlipatganda – “Multiple Sins” – sebagaimana yang disampaikan dalam pidatonya baru-baru ini di Hudson Institute, sebuah lembaga think tank konservatif yang berbasis di Washington D.C.  Bagi mereka yang mendengarkan komentarnya itu, orang tidak bisa disalahkan karena pidato tersebut memang terkesan mengarah pada deklarasi Perang Dingin II.

Dimasa lalu, di era pemerintahan Clinton, Bush dan Obama dengan bersikap naif tentang ancaman yang ditimbulkan oleh China dan kesediaannya untuk menjadi mitra strategis dalam tatanan internasional yang liberal. Sedangkan Pence menegaskan bahwa ada sheriff baru di kota: Trump memahami Cina adalah saingan dan musuh dan tidak seperti pendahulunya. Artinya, Pence menegaskan bahwa Trump siap untuk mengambil langkah-langkah yang tepat untuk melindungi nilai-nilai dan kepentingan Amerika.

Sebelumnya pidato Pence tersebut tidak pernah diduga akan muncul dan itu penting untuk diperhatikan. Selain mengulang-ulang tentang protes pemerintahan Trump terhadap praktik perdagangan China yang tidak adil dan ekspansi di Laut Cina Selatan, wakil presiden Amerika tersebut juga membuat beberapa komentar yang membara. Pence menuduh Tiongkok berusaha "menggunakan pengaruh dan campur tangan dalam kebijakan domestik dan politik negara Amerika Seirkat," dan dia memperingatkan pendengarnya bahwa Cina ingin mempengaruhi pemilihan AS. Dia mengatakan"apa yang dilakukan orang-orang Rusia jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan Cina," Pence terdengar seperti Eugene McCarthy ala modern saat dia menuntut Beijing dengan mendalangi kampanye pengaruh dengan memberi imbalan atau memaksa Politisi, wartawan, pengusaha, dan studio film Amerika.

Kembali ke Beijing, berbagai reaksi muncul terhadap pidato Pence, mulai dari pesimistis hingga optimis. Orang-orang yang pesimis menyerukan peringatan dengan membuat perbandingan dengan pidato Winton Churchill yang dijuluki Iron Curtain (Tirai Besi) pada tahun 1946, yang pada dasarnya menandai awal dari perang dingin. Disisi lain, bagi kelompk optimis, menganggap menunjukkan tidak ada yang baru dalam pidato Pence dan tetap optimis pada hubungan AS-China, sementara tetap kompetitif ke masa depan yang lebih jauh, juga akan lebih kooperatif dan kurang berbahaya ketika Trump akan meninggalkan Gedung Putih.

Disamping itu, seorang kritikus Trump di AS, yang percaya bahwa pidato Pence adalah upaya untuk mengalihkan perhatian dari penyelidikan Mueller di Rusia dan menjalankan basis Republik sebelum Pemilu jangka menengah penting di bulan depan. Tapi, itu mungkin benar secara parsial, itu akan menjadi kesalahan menafsirkan sebagai murni taktik yang sinis, setelah semua pembicaraan tentang perang dingin baru dan ancaman yang ditimbulkan oleh kebangkitan China yang telah tertanam di kalangan akademisi Amerika dan lingkaran kebijakan dalam masa yang cukup panjang sebelum Trump berkuasa.

Graham Allison, seorang profesor pemerintah dari Harvard University, adalah pendukung terkemuka dari pendapat umum bahwa konflik antara AS dan China kemungkinan terjadi dibandingkan tidak. Allison, dalam best seller 2017-nya "Destined for War: Can America and China Escape Thucydides's Trap?", yang mengacu pada sejarah konflik kekuatan besar di bawah lensa Perang Peloponnesia yang dijelaskan sejarawan hebat Thucydides sebagai konsekuensi dari "kebangkitan Athena" dan ketakutan yang ditanamkan di Sparta yang membuat perang tidak terhindarkan.”

Apakah Amerika dan Cina akan berusaha untuk tidak jatuh ke dalam perangkap Thucydides, atau tidak. Hal tersebut harus tetap dipahami. Banyak yang akan bergantung pada kepemimpinan di kedua negara, meskipun untuk saat ini, hubungan tidak tampak menjanjikan. China, ibarat Athena modern di bawah Xi Jinping, berkomitmen kuat untuk memperluas pengaruhnya di luar negeri. Xi disepakati untuk berkuasa seumur hidup, sementara kebangkitan Trump dan kelompok kebijakan luar negerinya yang mencakup hawks seperti Penasihat Keamanan Nasional John Bolton dan Sekretaris Negara Mike Pompeo. Ini adalah fenomena politik yang ditarik dari sebuah pembuluh darah yang dalam dari populisme sayap kanan dan xenofobia yang kemungkinan akan bertahan lebih lama dari presiden Trump dan menghasilkan kebijakan luar negeri yang lebih konfrontatif dengan rival Amerika seperti Cina.

Pada dasarnya, bagaimanapun, komunitas internasional harus waspada terhadap apa yang ada di depan. Dalam editorial baru-baru ini di surat kabar Financial Times yang berjudul "Amerika sedang berjongkok untuk perang dingin baru", Allison berpendapat bahwa pendekatan pemerintahan Trump terhadap China mencerminkan "strategi serius yang muncul untuk menghadapi Cina." Tapi Allison juga mengamati secara seksama konfrontasi yang muncul ini 'tanpa memanfaatkan dokumen-dokumen strategis inti seperti Long Telegram George Kennan atau dokumen kebijakan Paul Nitze NSC-68 yang mengkristalisasi strategi AS dalam perang dingin pertama'. Dengan kata lain, berarti bahwa sementara hawks di pemerintahan Trump adalah Bertujuan untuk menghadapi Cina di berbagai bidang. Artinya tidak ada akhir permainan yang jelas.

Namun, terdapat beberapa pertanyaan serius masih harus dijawab. Apakah tim Trump ingin melemahkan monopoli kekuasaan Partai Komunis di Tiongkok? Pilihan lain dan kurang menakutkan apakah Washington berharap untuk menahan Cina dan niatnya yang jelas untuk menggunakan pengaruh yang lebih besar di luar perbatasannya dan merevisi tatanan internasional? Atau, apakah Trump sebagai negosiator ulung ingin memaksa Cina ke meja dan berbicara perdamaian yang panjang?

Jika Trump dan orang-orang seperti Bolton ingin merusak Cina, maka prospek untuk mengakhiri perang perdagangan itu sangat suram. Dan malah prospek konflik jauh lebih besar yang ada. Jika, di sisi lain, pengulangan perang dingin pertama - yang merupakan penahanan - ada dalam kartu (China dan AS), maka konfrontasi yang berlarut-larut dijamin pasti ada kecuali pada titik tertentu, Beijing dan Washington sampai pada kesadaran bahwa menegosiasikan perdamaian yang bersifat jangka panjang adalah kepentingan terbaik kedua negara.


*Penulis: Irawan Ronodipuro (Independent Observer)

Artikel ini telah dilansir di surat kabar Independent Observer versi Bahasa Ingris edisi 19-25 Oktober 2018 dengan judul: Are we entering cold war II?

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi