Angka Kemiskinan: Transparansi Metodologis Untuk Saling Melengkapi

Angka Kemiskinan: Transparansi Metodologis Untuk Saling Melengkapi

Ilustrasi


SUARANASIONAL.ID, Data kemiskinan memang berbeda-beda, setiap lembaga yang mencoba meneliti tingkat kemiskinan akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda atau data yang berbeda oleh sebab indikator dan sampel yang dilakukannya juga berbeda. Indikator merupakan sudut pandang peneliti untuk menetapkan sebuah kondisi masuk dalam kriteria atau tidak. Sehingga perbedaan indikator akan menghasilkan pandangan yang berbeda mengenai keadaan maupun realitas tertentu. Indikator memang amat berkaitan dengan kompleks paradigmatik-teoitik tertentu yang berasal muasal dalam studi-studi ilmu sosial dengan ragam corak ideologinya. Sehingga angka kuantitatif dalam sebuah hasil penelitian sebenarnya berakar pada sudut pandang kualitatif yang ada di balik asumsinya.

Belakangan ini kita dapat lihat perdebatan soal tingkat kemiskinan yang kembali dilontarkan oleh Ketua Umum Partai GerindraPrabowo Subianto yang menyebut Indonesia tambah miskin dalam waktu lima tahun terakhir, dengan data yang dilansir oleh BPS (Badan Pusat Statistik). Dalam sebuah pidato Prabowo mengatakan "Mata uang kita tambah, tambah rusak, tambah lemah. Apa yang terjadi adalah dalam lima tahun terakhir kita tambah miskin, kurang-lebih 50% tambah miskin," tuding Prabowo di Menara Peninsula, Jakarta Barat, Jumat (27/7/2018), (finance.detik.com).

Sementara itu Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2012 jumlah orang miskin di Indonesia tercatat 28,59 juta. Dengan komposisi orang miskin di kota sebanyak 10,33 juta dan orang miskin di pedesaan 18,09 juta. Kemudian memasuki September 2013 jumlah orang miskin di Indonesia sebanyak 28,55 juta menurun dibandingkan periode September 2012. Untuk jumlah orang miskin di perkotaan tercatat 10,63 juta. Lalu jumlah orang miskin di pedesaan sebesar 17,92 juta. Selanjutnya periode September 2014 jumlah orang miskin di Indonesia mengalami penurunan jadi 27,73 juta. Lalu jumlah orang miskin di perkotaan 10,36 juta dan orang miskin di pedesaan 17,37 juta. Jumlah orang miskin pada September 2015 tercatat 28,51 juta lebih tinggi dibandingkan periode 2014. Kemudian untuk jumlah orang miskin di perkotaan tercatat 10,62 juta dan orang miskin di pedesaan 17,89 juta. Memasuki September 2017 jumlah orang miskin di Indonesia tercatat mengalami penurunan yakni menjadi 26,58 juta dengan komposisi orang miskin di perkotaan 10,27 juta dan orang miskin di pedesaan 16,31 juta. Periode Maret 2018 jumlah orang miskin di Indonesia tercatat 25,95 juta. Jumlah ini menurun 633 ribu orang dari posisi September 2017 yang sebanyak 26,58 juta. BPS menyebutkan, jumlah orang miskin di Indonesia sudah berada di posisi single digit. Karena turun 0,30% dibanding September. Pada Maret 2018 posisi persentase kemiskinan tercatat 9,82% lebih rendah dibanding sebelumnya 10,12%, (finance.detik.com).

Data di atas menunjukkan bahwa kemiskinan terus menurun dalam kurun waktu 5 tahun belakangan ini. Tentu saja data di atas berkebalikan dengan pernyataan Prabowo yang menyatakan bahwa kemiskinan bertambah mencapai kurang lebih 50 persen. Bagaimana memahami perbedaan ini? Persis seperti yang tersebutkan di awal tulisan bahwa ini mengenai soal cara pandang. Penegasan ini juga datang dari Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati yang mengatakan bahwa Prabowo dan BPS punya cara pandang yang berbeda dalam melihat kemiskinan. Dia berpendapat, BPS menghitung standar kemiskinan dengan acuan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang sebesar 2.100 kalori per kapita per hari. Sedangkan Prabowo mungkin memakai rujukan standar ketenagakerjaan internasional (International Labour Organization/ILO) tentang kesetaraan pendapatan. (www.liputan6.com)

"Mengenai BPS enggak ada yang salah, karena BPS itu metodologinya menghitung angka kemiskinan dari 2.100 kalori. Nah sekarang mungkin pak Prabowo atau misalnya orang lain bukan pak Prabowo menghitung angka kemiskinan berdasarkan standar ILO," demikian ujarnya.

Sehingga untuk itu kembali Enny menegaskan bahwa ucapan Prabowo serta data keluaran BPS itu bukanlah suatu perbedaan, melainkan hanya sebuah perbedaan sudut pandang saja. Namun, dia pun mengimbau BPS agar dapat menyampaikan metodologi yang dipakai untuk menghitung angka kemiskinan. Sebab, setiap lembaga punya tiga rumusan untuk menganalisis kasus tersebut. "Sebenarnya BPS juga ada tiga pembanding, yakni angka kemiskinan mutlak, ada indeks keparahan, ada indeks kedalaman. Itu sebenernya bisa diperbandingkan. Nah mungkin juga metodologinya itu yang penting dibuka kepada pemerintah, bahwa ini loh hanya pakai 2.100 kalori. Yang penting di situnya, jadi enggak hanya main sekedar klaim mengklaim," tandasnya.

Dalam konteks perdebatan di atas mesti dilihat secara positif dengan membuka ruang diskursus akademik dengan transparansi model pembacaan atas indikator yang dipakai dalam meneliti sehingga angka-angka dari hasil penelitian yang berbeda ukuran dan kriteria tersebut dapat saling melengkapi. Karena bagaimanapun soal menurun atau tidaknya kemiskinan menegaskan kemiskinan tersebut masih ada. Sementara transparansi model indikator akan memberi gambaran sejauh mana strategi pemerintahan berhasil masuk dalam salah satu atau banyak sektor dari rumusan soal kemiskinan.

*Penulis: Rahman Maswa (Peneliti Nasional Institut)

Prabowo: Saya Dituduh Tidak Beragama

SUARANASIONAL.ID – Prabowo Subianto, Calon Presiden RI Nomor Urut 02, berani dengan lantang mengungkapkan bahwa...

liputan6.com, detik.com, yahoo.com, twitter.com, facebook.com, berita terkini, viral, video terbaru, ratna sarumpaet , politik, 2018, pilpres, jokowi maruf, prabowo sandi